Kenaikan Pasokan di AS Masih Tekan Harga Minyak Dunia

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 01/03/2018 07:24 WIB
Kenaikan Pasokan di AS Masih Tekan Harga Minyak Dunia Penurunan harga minyak mentah pada perdagangan Rabu (28/2), waktu Amerika Serikat (AS), berhasil ditahan. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Penurunan harga minyak mentah pada perdagangan Rabu (28/2), waktu Amerika Serikat (AS), berhasil ditahan setelah sentimen kenaikan produksi mingguan bisa diimbangi oleh rilis data merosotnya produksi bulanan minyak mentah AS pada Desember 2017.

Dilansir dari Reuters (1/3), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$0,29 atau turun 0,5 persen menjadi US$62,72 per barel pada pukul 13.03 waktu AS.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak paling aktif Mei turun US$0,56 menjadi US$66,07 per barel.

Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), persediaan minyak mentah AS melonjak tiga juta barel untuk pekan yang berakhir pada 23 Februari 2017, di atas ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan di kisaran 2,1 juta barel. Di sisi lain, persediaan bensin juga meningkat secara mengejutkan.


"AS mendapatkan peningkatan persediaan (minyak mentah) yang cukup besar, dengan hal seperti itu karpet merah di pasar yang mengarah kepada kenaikan harga (bull) seakan ditarik dari bawah," ujar Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures Philip Streible di Chicago.

Dalam laporan bulanan terpisah, EIA menyatakan produksi minyak mentah AS pada Desember 2017 merosot menjadi 9,95 juta barel, atau turun sekitar 108 ribu barel per hari (bph) dari November 2017.

Dalam laporan bulanannya, EIA juga merevisi ke atas data produksi minyak mentah AS pada November 2017 menjadi 10,057 juta barel.

Melejitnya produksi minyak mentah AS telah membatasi kenaikan harga minyak tahun ini, meskipun Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) masih menjalankan pemangkasan pasokan.

"AS memiliki lebih banyak minyak untuk diproduksi dan akan melampaui batas 11 juta barel per hari dengan waktu lebih cepat dari yang diperkirakan," ujar Streible.

Harga komoditas sektor energi secara umum terseret oleh harga minyak berjangka. Harga minyak berjangka turun 1,7 persen menjadi US$1,77 per galon. Hal itu terjadi setelah kejutan dari peningkatan pasokan bensin yang naik sebesar 2,5 juta barel, atau meleset dari perkiraan penurunan sebesar 190 ribu barel.

Kenaikan di sisi persediaan seimbang dengan peningkatan aktivitas kilang dalam beberapa pekan terakhir.

"Meskipun operator kilang melakukan perawatan, mereka tetap melanjutkan untuk memproses lebih banyak minyak mentah dibandingkan tahun lalu yang menambahkan pasokan bensin dan solar," ujar Presiden Lipow Oil Andrew Lipow di Houston.

Harga minyak juga lebih dulu ditekan oleh laporan perlambatan aktivitas manufaktur di tiga negara konsumen minyak mentah terbesar dunia yaitu China, India, dan Jepang.

Penguatan indeks dolar AS hingga menyentuh level tertinggi dalam sebulan terakhir pada perdagangan Rabu (28/2) juga menambah tekanan pada harga minyak mentah.

Sebagai catatan, penguatan dolar AS membuat harga minyak menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
(lav/lav)