Terpengaruh Pasar Saham, Harga Minyak Dunia Merosot

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 02/03/2018 07:26 WIB
Terpengaruh Pasar Saham, Harga Minyak Dunia Merosot Ilustrasi minyak dunia (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak terperosok lebih dari satu persen ke level terendah dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Kamis (1/3), waktu Amerika Serikat (AS). Hal itu dipicu oleh pelemahan pasar saham dan kekhawatiran terhadap peningkatan produksi minyak mentah AS.

Dilansir dari Reuters Jumat (2/3), harga minyak mentah berjangkan acuan global Brent turun US$0,9 atau 1,4 persen menjadi US$63,83 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melorot US$0,65 atau 1,1 persen menjadi US$60,99, setelah sempat tertekan ke level US$60,18. Level harga dalam sesi perdagangan kedua merupakan yang terendah dalam dua pekan terakhir.

"Sejak pasar mengalami aksi jual ekstrem di pasar modal dua pekan lalu, harga minyak seperti memiliki satu mata pada aktivitas pasar modal dan telah berada di bawah pengaruh kuat dolar AS," ujar Direktur Riset Komoditas ClipperData Matt Smith.


Pasar modal AS terlincir lebih dari 1 persen setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor untuk baja dan aluminium.

Sementara itu, indeks dolar AS menyentuh level tertingginya dalam enam minggu terakhir pada sesi perdagangan awal, namun berangsur turun pada siang hari, menahan tekanan pada harga minyak mentah.
Sebagai catatan, pelemahan dolar AS bisa mendongkrak permintaan minyak dan komoditas lain yang diperdagangkan dengan denominasi dolar AS.

"Salah satu hal yang berkontribusi terhadap pasar (minyak) adalah pelemahan dolar AS selama beberapa bulan terakhir," ujar Manajer Rist Pasar Tradition Energi Gene McGillian di Stamford.

Rabu lalu, Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) merilis data mingguan yang menunjukkan kenaikan persediaan minyak mentah AS yang di atas perkiraan serta kenaikan stok bensin.

Produksi minyak mentah AS tergelincir pada Desember 2017, namun pada November 2017 sempat mencetak rekor terbesar di level 10,057 juta barel per hari (bph).

"Laporan kemarin telah membangkitkan perhatian pada produksi AS yang akan mengimbangi pemangkasan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC)," ujar McGillian.

Perwakilan OPEC bakal bertemu dengan perwakilan industri minyak shale AS di konferensi energi AS pada Senin depan, menggarisbawahi pengaruh produksi AS pada harga minyak global.

"Istilah "shale lawan syekh" terus membingkai pasar minyak, dengan yang lebih dulu (shale AS) lagi-lagi lebih unggul," ujar Kepala Riset Makro dan Komoditas Julius Baer Norbert Ruecker.

Baer melihat lebih banyak potensi penurunan pada pasar minyak. Sebagai catatan, pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC dilakukan sejak awal 2017. Kebijakan ini telah membantu mendongrak harga dari level di bawah US$30 per barel yang terjadi pada Januari 2016.

Survei Reuters pada Rabu lalu memperkirakan produksi minyak OPEC pada Februari lalu turun ke level terendah dalam 10 bulan terakhir. (lav/lav)