Industri Mamin jadi Contoh Implementasi Revolusi Industri 4.0

SAH, CNN Indonesia | Kamis, 22/03/2018 07:04 WIB
Industri Mamin jadi Contoh Implementasi Revolusi Industri 4.0 Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menetapkan industri makanan dan minuman sebagai percontohan untuk implementasi revolusi industri 4.0. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menetapkan industri makanan dan minuman (mamin) sebagai percontohan untuk implementasi revolusi industri 4.0 di Indonesia. Hal itu karena industri makanan dan minuman menunjukkan kinerja positif di pasar global.

Kemenperin mencatat nilai ekspor produk makanan dan minuman nasional pada tahun lalu mencapai US$11,5 miliar atau naik dibanding 2016 yang berada di angka US$10,43 miliar.

Kemudian selama tahun lalu pangsa pasar industri makanan dan minuman tumbuh hingga 9,23 persen atau naik 0,77 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 8,46 persen. Angka tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,07 persen.



Sementara, kontribusi industri makanan dan minuman di tahun lalu terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pun sebesar 6,14 persen.

"Potensi industri mamin di Indonesia bisa menjadi juara, karena pasokan dan user-nya banyak. Untuk itu, kuncinya di industri ini adalah food innovation dan security," kata Airlangga di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (21/3).

Ia menyatakan Sumber Daya Manusia (SDM) industri makanan dan minuman pun sudah siap untuk memasuki era revolusi industri 4.0. Hanya saja tingkat kesiapan SDM-nya masih terbilang kecil sehingga perlu lebih didorong lagi.


"Industri kalau sudah masuk ke era ketiga itu sudah masuk era otomatisasi sekarang yang belum adalah pemanfaatan dari big data jadi kalau itu ditambahkan tinggal di-upgrade sedikit lagi bisa dan itu perlu didorong," imbuh dia.

Diharapkan dengan dijadikannya industri makanan dan minuman sebagai proyek percontohan, industri-industri lain pun dapat belajar dan mengikuti kinerja positifnya.

"Dengan mereka menerapkan teknologi terkini, industri makanan dan minuman maupun sektor lainnya, mampu menjadi pengungkit dalam memacu pertumbuhan industri manufaktur nasional, termasuk menciptakan lapangan kerja," ujarnya.


Di sisi lain, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman menyebutkan revolusi industri 4.0 di sektor makanan dan minuman tidak akan mengurangi kapasitas penyerapan tenaga kerja.

Namun, penambahan kapasitas tenaga kerja di era industri 4.0 disebut tidak akan sebanyak era sebelumnya.

"Mereka (industri 4.0) tidak mengurangi tenaga kerja tapi memang tidak sebanyak yang lama. Misalnya, yang lama kapasitas produksinya 100, orangnya 10, untuk tambah kapasitas 100 ini cuma tambah lima orang," terang dia. (bir)