Ekonom: Dana Asing Tak akan Lari Jika Rupiah Stabil

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 23/03/2018 17:43 WIB
Ekonom: Dana Asing Tak akan Lari Jika Rupiah Stabil Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan di saat bank di saat suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserves. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan di saat bank di saat suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserves naik dianggap tak akan menimbulkan arus modal keluar, asal BI bisa menjaga volatilitas rupiah sepanjang tahun ini.

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan sampai saat ini belum ada potensi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cukup parah pasca pengumuman The Fed. Sebab, dampak kenaikan Fed Rate ternyata tidak terlalu agresif jika dibandingkan ekspektasi sebelumnya.


Ia berkaca pada pelemahan dolar AS terhadap beberapa mata uang. Tak hanya itu, imbal hasil surat utang AS (US treasury yield) juga menurun pasca pengumuman tersebut. Artinya, risiko kenaikan Fed Rate perlahan padam dengan sendirinya.


"Kebijakan BI saat ini saya nilai tepat. Sekarang yang perlu dilakukan adalah menjaga kurs. Kalau stabil paling tidak Indonesia bisa mengurangi tekanan outflow," ujar Andry kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/3).

Pasalnya, dampak kenaikan Fed Rate sepanjang tahun ini sudah diantisipasi, maka ia menilai nilai tukar rupiah akan bergerak menuju posisi fundamentalnya.

Andry meramal, nilai tukar rupiah terhadap dolar berada pada posisi Rp13.958 per dolar AS atau menguat dari posisi saat ini Rp13.737 sesuai kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

Di samping itu, inflasi juga diprediksi tak lebih dari 4 persen sepanjang tahun ini. Artinya, peluang BI untuk menahan suku bunga acuannya sebesar 4,25 persen hingga akhir tahun sangat terbuka lebar.

"Meskipun begitu, kami masih melihat risiko domestik masih besar. Tekanan kemungkinan dari defisit transaksi neraca berjalan yang bisa menekan rupiah ke depannya," ungkap dia.


Senada, Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan keluarnya dana asing dalam sebulan terakhir memang menekan rupiah. Tapi, ia menilai volatilitas rupiah akan mereda seiring berkurangnya ketidakpastian di pasar modal karena pelaku pasar sudah pasang kuda-kuda atas kenaikan Fed Rate di tahun ini. Sehingga, harusnya keresahan pelaku pasar sudah tidak menjadi-jadi.

"Melihat dari dot plot yang dirilis The Fed, sebagian besar anggota Federal Open Market Committee (FOMC) tetap memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga AS tahun ini sebesar 75 basis poin," ujar Josua.

Volatilias pada rupiah diperkirakan menurun seiring menyusutnya ketidakpastian di pasar setelah The Fed mengeluarkan dot plot pada rapat FOMC bulan ini.

Ia pun melihat inflasi masih berada sesuai target tahun ini. Sehingga, ia juga menilai arah kebijakan BI ke depan tidak mengubah suku bunga acuan 7DRR.

"Jadi, mempertimbangkan tujuan BI yakni menjaga stabilitas harga dan nilai tukar pada tahun ini, maka stance kebijakan moneter BI diperkirakan netral dalam jangka pendek," papar dia.


Sebelumnya, BI menetapkan suku bunga acuan 7DRR tetap di angka 4,25 persen pada Maret ini. Suku bunga simpanan (deposit ficility) dan suku bunga pinjaman (lending facility) masing-masing juga dipertahankan masing-masing sebesar 3,5 persen dan 5 persen.

Dari sisi domestik, keputusan BI menahan suku bunga acuan juga mempertimbangkan kinerja pertumbuhan ekonomi yang hingga akhir tahun mendatang diperkirakan di angka 5,1 persen hingga 5,5 persen. Bahkan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal I lebih baik dibanding kuartal sebelumnya.

Lebih lanjut, dari sisi perdagangan, BI mencatat neraca perdagangan yangd efisit sebesar US$780 juta dalam dua bulan pertama tahun 2018. Selain itu aliran modal masuk pun hanya US$300 juta. Sehingga, BI mengatakan bahwa proyeksi defisit transaksi berjalan di angka 2 hingga 2,5 persen hingga akhir tahun nanti, atau masih dalam batas tertinggi 3 persen. (lav/bir)