Pemerintah Gerah Dituding Bikin Pertamina 'Buntung'

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 23/03/2018 19:05 WIB
Pemerintah Gerah Dituding Bikin Pertamina 'Buntung' Pemerintah mengaku keberatan disebut membiarkan Pertamina merugi pasca penugasan penjualan solar bersubsidi dan premium di luar wilayah Jamali. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mengaku keberatan disebut membiarkan PT Pertamina (Persero) merugi. Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Ego Syahrial.

Pernyataan Pertamina bahwa pemerintah membiarkan perusahaan migas pelat merah itu rugi dipicu oleh penugasan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi dan premium di luar wilayah Jawa - Madura - Bali (Jamali) periode Januari - Februari 2018.

Pasalnya,aktivitas tersebut diklaim membuat perusahaan kehilangan potensi penerimaan sebesar Rp3,49 triliun. "Pemerintah memikirkan Pertamina juga. Jangan sampai ada pernyataan bahwa pemerintah membiarkan Pertamina rugi," ujarnya, Jumat (23/3).



Sebelumnya, Pertamina menghitung potensi penerimaan yang menguap disebabkan oleh harga jual yang diberikan ke masyarakat lebih rendah dari harga keekonomian.

Sebagai gambaran, solar bersubsidi dijual seharga Rp5.150 per liter. Padahal, jika mengikuti harga pasar, harga solar seharusnya dijual Rp8.350 per liter.

Sementara, premium yang dibanderol Rp6.450 per liter di luar Jamali dan Rp6.550 per liter di wilayah Jamali memiliki harga keekonomian pasar Rp8.600 per liter.


Ego mengungkapkan meskipun pemerintah tidak secara langsung menanggung selisih harga, pemerintah memberikan kompensasi lain bagi perseroan.

Misalnya, pemerintah menyerahkan pengelolaan sejumlah blok-blok migas kepada perseroan. Salah satunya, pengelolaan Blok Mahakam yang resmi jatuh ke tangan perseroan sejak 1 Januari 2018 lalu.

"Pertamina dikasih Blok Mahakam untungnya berapa? Untung Rp7 triliun per tahun bersih," imbuh Ego.


Pemerintah juga memberikan prioritas pengelolaan delapan blok migas terminasi yang masa kontraknya berakhir tahun lalu dan tahun ini kepada Pertamina.

Delapan blok migas terminasi tersebut, antara lain blok East Kalimantan, Attaka, Sanga-sanga, South East Sumatra, Ogan Komering, North Sumatera Offshore, Tuban, dan Tengah.

Selain itu, mempertimbangkan tren kenaikan harga minyak mentah, pemerintah juga bakal mengerek subsidi solar dari Rp500 per liter menjadi Rp1.000 per liter. Namun, realisasinya harus dibahas terlebih dahulu dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). (bir)