Transaksi Dagang RI-Malaysia dan Thailand Minim Pakai Rupiah

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 13/04/2018 15:40 WIB
Transaksi Dagang RI-Malaysia dan Thailand Minim Pakai Rupiah Berdasarkan catatan BI, sekitar 94 persen transaksi dagang antara Indonesia dengan Malaysia masih menggunakan dolar AS. (cnnindonesia/safirmakki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah pembayaran atas transaksi dagang Indonesia dengan Thailand dan Malaysia yang menggunakan mata uang rupiah baru mencapai Rp28,69 miliar sepanjang Januari-April 2018.

Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsyah menyatakan bahwa jumlah tersebut masih terbilang kecil bila dibandingkan dengan total nilai perdagangan antara Indonesia dengan Malaysia dan Thailand.

Sebagian besar transaksi pembayaran kegiatan dagang Indonesia dengan kedua negara menurut dia, saat ini masih menggunakan dolar Amerika Serikat.


Ia mencontohkan, sekitar 94 persen transaksi dagang antara Indonesia dengan Malaysia masih menggunakan dolar AS.

"Memang transaksinya belum banyak. Tapi setidaknya empat bank sudah lakukan (membantu penukaran mata uang lokal) dengan eksportir dan importir maupun dengan antar sesama bank di tiga negara," ujar Nanang di Kompleks Gedung BI, Jumat (13/4).


Berdasarkan data yang diperoleh CNNIndonesia.com, penggunaan rupiah dalam transaksi dagang Indonesia dengan kedua negara dilakukan melalui tiga bank, yaitu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA, dan Bangkok Bank Public Company Limited.

Tercatat, pembelian rupiah untuk kegiatan dagang antara Indonesia dengan kedua negara ASEAN dalam kurun waktu Januari-April 2018 melalui BNI Rp7,48 miliar, BCA Rp750 juta, dan Bank Bangkok Rp20,32 miliar.

Selain melayani transaksi dagang dengan rupiah, ketiga bank tersebut juga telah melayani transaksi dagang dalam ringgit Malaysia dan baht Malaysia. BNI misalnya, juga mencatatkan transaksi 2 ribu ringgit, BCA sebesar 3,94 juta ringgit dan 53,86 juta baht, Bangkok Bank sebanyak 212,31 juta baht, dan Maybank sebanyak 17,3 juta ringgit.

Sebelumnya, bank sentral ketiga negara telah menunjuk tujuh bank untuk melakukan transaksi pembayaran dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) atau yang dikenal dengan sebutan Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) bank. Namun, dari ketujuh bank tersebut, baru empat yang melayani transaksi tersebut. 

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat bahwa nilai perdagangan ekspor nonmigas dari Indonesia ke Malaysia pada Januari-Februari 2018 sebenarnya telah mencapai US$1,21 miliar. Sedangkan nilai impor Indonesia dari Malaysia mencapai US$948,5 juta pada periode yang sama.

Dibandingkan dengan Thailand, tercatat jumlah ekspor Indonesia ke Thailand mencapai US$961,9 juta pada Januari-Februari 2018. Sementara, nilai impor Indonesia dari Thailand sebesar US$1,62 miliar pada periode yang sama.


Ke depan, menurut Nanang, BI akan terus mendorong agar eksportir dan importir mulai beralih menggunakan mata uang rupiah dan mata uang lokal kedua negara, yaitu ringgit Malaysia dan baht Thailand dalam transaksi perdagangan ekspor impor.

Hal ini, antara lain dilakukan dengan gencar melakukan sosialisasi. Dengan begitu, penggunaan dolar AS diharapkan dapat berkurang.

"Sebenarnya, kemarin sudah kami sosialisasikan di Batam, Semarang, Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Tapi kami akan terus lakukan sosialisasi ke eksportir dan importir," imbuhnya.

Di sisi lain, menurut Nanang, penggunaan rupiah dalam transaksi perdagangan dengan kedua negara sejatinya lebih menguntungkan. Hal ini lantaran beda nilai tukar bila pembayaran transaksi dengan rupiah jauh lebih rendah dibandingkan dengan dolar AS.

"Spread-nya (beda nilai tukar) sekitar Rp1-3 (lebih hemat dibandingkan dolar AS). Jadi ini efisien untuk konversi," pungkasnya. (agi/bir)