Tahun Depan, Bank Mandiri Lepas Anak Usaha 'Melantai'

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Selasa, 24/04/2018 10:30 WIB
Tahun Depan, Bank Mandiri Lepas Anak Usaha 'Melantai' Bank Mandiri memastikan akan mengantarkan anak usahanya, yaitu Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Mandiri Tunas Finance (MTF), tahun depan. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memastikan akan mengantarkan anak usahanya, yaitu PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Mandiri Tunas Finance (MTF) melantai ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun depan.

"BSM sudah pasti tahun depan, kami tunggu Return on Equity (RoE) 10 persen atau di atas 10 persen. Saat ini, RoE BSM disebut masih jauh dibawah 10 persen," tutur Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, Senin (23/4).

Sementara, untuk MTF, lanjut Tiko, Bank Mandiri akan menaikkan nilai kapitalisasi pasar anak usahanya tersebut hingga Rp2 triliun.



"Karena kalau tidak Rp2 triliun, nanti dari sisi market likuiditas akan berkurang, sekarang masih satu koma sekian triliun," katanya.

Melihat proses penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang masih panjang, Tiko tidak menyebut berapa persentase saham yang akan dilepas dan target raihan dana IPO kedua anak usahanya.

"Untuk waktunya lagi dilihat, terutama ekspektasi pasarnya bagaimana," jelas Tiko.


Pada sepanjang tahun lalu, BSM membukukan laba bersih sebesar Rp365 miliar atau meningkat 12,22 persen dari posisi tahun sebelumnya yang hanya Rp325 miliar.

Kenaikan laba bersih itu tak lepas dari jumlah pembiayaan BSM yang naik 9,2 persen menjadi Rp60,69 triliun dari sebelumnya Rp55,58 triliun. Pembiayaan tersebut disalurkan kepada bisnis konsumsi, pawning, dan UMKM sebesar Rp34,31 triliun dan bisnis segmen korporasi sebesar Rp26,13 triliun.

Kemudian, MTF sendiri meraup laba bersih sebesar Rp350,2 miliar sepanjang 2017. Pencapaian itu naik 4,5 persen dari laba bersih 2016 lalu sebesar Rp335,1 miliar. Hal itu didorong oleh kenaikan jumlah pembiayaan perusahaan sebesar 19 persen menjadi Rp22,2 triliun. (bir)