Direktur Eksekutif INES Oskar Vitriano memaparkan salah satu poin kebijakan fiskal yang disoroti responden adalah masalah utang. Tercatat, sebanyak 72,7 persen responden tidak setuju dengan jumlah utang negara yang menggunung.
Menurut data Kementerian Keuangan per Maret 2018, total utang outstanding pemerintah tercatat Rp4.136,39 triliun atau tumbuh 13,14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini tercatat 29,78 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Responden khawatir, beban pembayaran utang luar negeri nantinya akan dibebankan kepada masyarakat dengan menggenjot pajak," jelas Oskar, Minggu (6/5).
"Sementara 7,1 persen sisa responden lainnya tidak mau bersikap mengenai utang Jokowi," jelasnya.
Sebagai contoh, di tahun lalu pemerintah mencabut subsidi listrik bagi 18,94 juta pelangan golongan 900 Volt Ampere (VA) dan memasukkanya sebagai golongan non-subsidi. Ini, lanjut Oskar, membuat responden merasa terbebani dari segi daya beli.
Selain itu, beberapa responden juga mempermasalahkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) penugasan seperti Solar dan Premium, meski pemerintah telah menahan harganya dalam dua tahun terakhir.
"Namun, 10,2 persen ternyata tidak mempermasalahkan terbebani dengan harga listrik dan BBM," terangnya.
Di dalam APBN 2018, pemerintah menargetkan tambahan utang sebesar Rp399,2 triliun demi menambal defisit APBN yang ditarget 2,19 dari PDB persen di tahun ini. Defisit ini lebih baik ketimbang tahun 2017 yang mencapai 2,49 persen dari PDB.
Sementara itu, pemerintah mengalokasikan Rp94,5 triliun untuk subsidi BBM dan listrik. (age)