Produksi Venezuela Terancam Merosot, Harga Minyak Melambung

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Selasa, 22 Mei 2018 07:20 WIB
Harga minyak dunia menembus level tertingginya sejak 2014 pada Senin (21/5) dipicu kekhawatiran penurunan produksi minyak Venezuela dan saksi AS terhadap Iran.
Harga minyak dunia menembus level tertingginya sejak 2014 pada Senin (21/5) dipicu kekhawatiran penurunan produksi minyak Venezuela dan saksi AS terhadap Iran. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia menembus level tertingginya sejak 2014 pada perdagangan Senin (21/5), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh kekhawatiran terhadap penurunan lebih jauh produksi minyak Venezuela dan sanksi potensial AS terhadap Iran.

Dilansir dari Reuters, Selasa (22/5), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$0,71 atau 0,9 persen menjadi US$79,22 per barel. Pada perdagangan usai penutupan (post-settlement trade), harga acuan global tersebut sempat reli ke level US$79,59 per barel.

Penguatan lebih besar terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,96 atau 1,4 persen menjadi US$72,24 per barel. Selama sesi perdagangan, WTI sempat menyentuh level US$72,33 per barel, tertinggi sejak November 2014. Kemudian, pada perdagangan usai penutupan, WTI menembus level tertingginya dalam 3,5 tahun terakhir sebesar US$72,59 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga minyak dunia menguat lebih jauh setelah Presiden AS Donald Trump berdiskusi dengan Rusia dan China terkait penerbitan utang baru kepada Venezuela. Senin kemarin, pejabat administrasi senior AS menyatakan bahwa Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk membatasi kemampuan Venezuela melikuidasi aset negara.

Setiap pembatasan pada keuangan Venezuela, logistik, dan listrik dapat menekan produksi minyak mentah Venezuela lebih jauh.

"Sekarang (produksi minyak Venezuela) sedikit menurun tetapi ada ekspektasi bahwa penurunan bakal lebih cepat," ujar Direktur Senior Center for Energy Impact Boston Consulting Group Jamie Webster.

Menurut Jamie, muncul persepsi bahwa kondisi Venezuela bakal seburuk Libya di hari terburuknya. Dalam hal ini, produksi minyak Venezuela dapat merosot tajam dari kapasitasnya.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mendapat kecaman dunia internasional setelah terpilih kembali dalam pemilihan umum yang digelar pada akhir pekan lalu. Terpilihnya Maduro dianggap sebagai sebagai bukti penguatan sistem otokrasi di negara produsen minyak yang tengah dilanda krisis tersebut.


Pemerintah AS secara aktif mempertimbangkan sanksi minyak terhadap Venezuela di mana produksi minyak telah merosot sepertiganya dalam dua tahun ke level terendah dalam beberapa dekade.

Vice President of Research Tradition Energy Gene McGillian mengingatkan bahwa pekan lalu harga Brent sempat menembus level US$80 per barel dan pasar mungkin bakal berupaya menghalau rintangan yang ada.

"Sepertinya penurunan (harga minyak) hanya merupakan aksi ambil untung jangka pendek dan kita akan melihat apakah pelaku pasar berkeinginan untuk menggerakkan pasar menembus US$80 per barel kembali," ujar McGillian.

Di luar permasalahan di Venezuela, kekhawatiran geopolitik terkait sanksi AS terhadap Iran yang dapat memangkas ekspor minyak mentah Iran telah mendongrak harga minyak dalam beberapa minggu terakhir.


Selanjutnya, Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin menyatakan kemungkinan terjadinya perang dagang antara AS dan China ditahan usai dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu sepakat untuk menurunkan ancaman tarif sembari menyelesaikan kesepakatan perdagangan yang lebih luas. Hal itu menyebabkan pasar global terangkat pada awal perdagangan pekan ini.

McGillian menilai stabilnya hubungan dagang antara kedua negara dapat mendorong permintaan minyak.

Chief Executive BP Bob Dudley menyatakan bahwa kenaikan produksi minyak shale AS dan produsen OPEC dapat mengakhiri reli kenaikan harga. Dudley memperkirakan bakal ada banjir minyak shale AS dan tambahan produksi dari OPEC untuk menenangkan pasar usai harga minyak menembus level US$80 per barel pekan lalu.

Menurut Dudley, harga minyak bakal kembali merosot ke kisaran US$50 hingga US$65 per barel karena kenaikan produksi minyak shale AS dan kemampuan OPEC meningkatkan produksi untuk mengimbangi potensi turunnya pasokan dari Iran akibat sanksi AS. (agi)
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER