Meski demikian, arus penumpang ini tak seiring dengan pertumbuhan pesawat. Data AP II menunjukkan, total pergerakan pesawat antara H-8 hingga H+2 Idul Fitri kali ini tercatat 19.907 pendaratan dan lepas landas (landing/take off) atau hanya tumbuh 1,11 persen ketimbang tahun sebelumnya yakni 19.694 landing/take off.
Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin beralasan penurunan ini lantaran kebijakan bandara yang membatasi jumlah pesawat kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awaluddin melanjutkan, perbaikan utilisasi pesawat ini disebabkan karena kebijakan AP II yang sudah meminta maskapai untuk mengganti operasi pesawat small body (kecil) ke narrow body (berbadan sempit) dan wide body (berbadan lebar) di Bandara Soekarno-Hatta dalam tiga tahun belakangan. Selain itu, status Seokarno-Hatta sebagai bandara besar pun sebetulnya tidak cocok untuk mengoperasikan pesawat kecil.
Di samping itu, perubahan ini juga membuat tingkat ketepatan waktu (On Time Performance/OTP) di Bandara Soekarno-Hatta bisa di atas 80 persen.
"Selain karena memang opersional bandara lebih baik, OTP ini juga terjadi karena tidak ada kejadian khusus seperti gunung meletus atau kabut asap," jelas dia.
Hingga saat ini, data AP II menunjukkan arus penumpang pada masa mudik paling tinggi di Soekarno-Hatta terjadi pada H-7 dengan jumlah 206.335 penumpang, atau tumbuh 15 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, arus penumpang pada arus balik sempat memuncak di H+4 dengan jumlah 211.958 penumpang. (stu)