Target Pertumbuhan Ekonomi 2019 di Bawah Rencana Awal Jokowi

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 16:24 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada 2019 mendatang. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada 2019 mendatang. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa target pertumbuhan ekonomi 2019 akan dipatok di level 5,3 persen. Target tersebut rencananya akan disampaikan dalam nota keuangan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 yang akan disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Agustus mendatang.

Target tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan outlook yang pernah dibuat pemerintah hingga akhir tahun yang sebesar 5,2 persen. Tapi target tersebut semakin jauh dengan pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah nasional (RPJMN 2015- 2019.

Pasalnya, dalam RPJMN pemerintah mematok target ekonomi pada 2019 nanti sudah tumbuh 8 persen.


Ani mengatakan untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, pemerintah akan mengubah beberapa asumsi makroekonomi. Perubahan asumsi akan dilakukan sebagai antisipasi pemerintah atas sentimen global yang kemungkinan besar masih akan mempengaruhi ekonomi domestik pada 2019 mendatang.


Perubahan juga dilakukan untuk memenuhi permintaan Jokowi yang ingin APBN 2019 lebih realistis dan tahan terhadap ketidakpastian global.

"APBN harus bisa menjaga ekonomi dan sosial masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian global yang makin meningkat seperti gejolak mata uang, terjadinya perang dagang, dan situasi yang makin dinamis," katanya Rabu (18/7).

Asumsi yang akan berubah kata Ani salah satunya nilai tukar rupiah yang sejauh ini ditetapkan Rp13.700 hingga Rp14 ribu per dolar AS. Perubahan dilakukan sebagai antisipasi atas pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Jerome Powell yang akan lebih ambisius dalam menaikan Fed Rate.

Ani mengatakan dengan nilai tukar yang diperkirakan masih bergejolak, maka defisit APBN harus dipasang lebih rendah dibanding tahun ini agar penarikan utang tak terlalu banyak dan risiko sentimen eksternal bisa diminimalisasi.



Sejauh ini, pemerintah masih berpatokan pada kisaran defisit APBN di angka 1,6 persen hingga 1,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau lebih rendah dari outlook tahun ini 2,12 persen dari PDB.

"Dan kami di saat yang bersamaan juga mengurangi keseimbangan primer yang negatif, yang selama ini dianggap bahwa pemerintah harus menjaga kebijakan utang dengan hati-hati," jelas dia.

Hingga semester I tahun ini, hampir seluruh indikator makroekonomi dalam APBN 2018 terbilang tidak sesuai asumsinya. Pertumbuhan ekonomi yang seharusnya mencapai 5,4 persen diperkirakan hanya tumbuh 5,1 persen hingga pertengahan tahun. Sementara realisasi nilai tukar rupiah tercatat Rp13.746 per dolar AS atau bergerak jauh dari asumsinya Rp13.400.

Tak hanya itu, realisasi harga minyak mentah Indonesia di angka US$67 per barel hingga semester I atau jauh lebih tinggi dari asumsinya US$48 per barel. Namun, inflasi hingga semester I yang mencapai 3,1 persen masih lebih baik dibanding asumsinya yakni 3,5 persen.

 
(agt/agt)