Laporan Keuangan Ditolak, Bos Tiga Pilar 'Walk Out' saat RUPS

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 27/07/2018 20:51 WIB
Laporan Keuangan Ditolak, Bos Tiga Pilar 'Walk Out' saat RUPS Manajemen PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk saat mengadakan konferensi pers terkait kasus kecurangan kualitas beras. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) Joko Mogoginta memilih keluar (walk out) dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPTS) yang digelar hari ini, Jumat (27/7) sejak pukul 14.00 WIB. Ia keluar setelah RUPST berjalan 5 jam 30 menit, tepatnya pada pukul 19.38 WIB.

Joko bilang, ia memilih keluar karena pemegang saham ingin membatalkan pengesahan Laporan Keuangan Tahunan Perseroan untuk tahun buku 2017 yang berakhir pada 31 Desember lalu. Padahal, laporan keuangan itu sebelumnya telah disahkan.

Menurutnya, permintaan pembatalan tersebut disertai dengan cara-cara yang tak wajar, yaitu menekan dan mengancam Komisaris Utama TPS Food Anton Apriyantono. Adapun penekanan itu, sambungnya, dilakukan oleh Komisaris yang juga menjabat sebagai Managing Director KKR Singapura, Jaka Prasetya.


"Tadi Pak Anton sudah jelas mengatakan bahwa dia ditekan oleh Pak Jaka Prasetya pada tanggal 25 untuk membuat suatu kesepakatan. Ini menjadi skenario yang sangat jelas jahat dan busuk," ucap Joko dengan nada tinggi usai keluar dari RUPST TPS Food.


Lebih lanjut, ia menjelaskan tekanan itu dilakukan untuk membatalkan pengesahan laporan keuangan yang selanjutnya akan membuat jajaran direksi dirombak. Sedangkan bila Anton tak menyepakati usulan pembatalan pengesahan, ia diancam akan digugat.

"Ini jelas hostile take over. Kalau laporan keuangan ditolak sama komisaris, direksi akan diganti," katanya.

Meski begitu, Harianto Bhakti, salah satu pemegang saham mengatakan usulan pembatalan pengesahan laporan keuangan sejatinya merupakan aspirasi dari para pemegang saham. Hal itu dilakukan karena pemegang saham tak lagi percaya dengan kinerja para manajemen direksi yang membuat perusahaan merugi sekitar Rp548 miliar tahun lalu.

"Sebanyak 61 persen pemegang saham menolak (pengesahan laporan keuangan). Jadi seharusnya tidak disetujui laporan keuangannya. Malah harus ganti direksi dan diaudit lagi (laporan keuangannya)," katanya pada kesempatan yang sama.


Menurutnya, salah satu hal yang membuat pemegang saham tak percaya karena direksi dianggap punya kepentingan lain dalam mengelola TPS Food. "Apalagi distributor TPS Food selama ini adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Direktur Utama dan Direktur lainnya," imbuhnya.

Di sisi lain, katanya, ketidakpercayaan pemegang saham lantaran direksi masih getol menebar optimisme bahwa perusahan bisa membayar utangnya. Padahal, beberapa utang ke perusahaan lain justru tak bisa dipenuhi.

Sementara terkait walk out yang dilakukan Joko, dianggapnya sebagai sikap pengecut lantaran ia khawatir akan dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Utama. Sebab, pada saat yang sama, RUPST turut membahas agenda pergantian jajaran direksi.

"Itu dia tidak terima saja karena sekarang sedang voting untuk ganti direksi," pungkasnya. (agi/agi)