Tekan Risiko Harga, Pemerintah Awasi Produksi Batu Bara

Galih Gumelar & Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 22/08/2018 06:01 WIB
Tekan Risiko Harga, Pemerintah Awasi Produksi Batu Bara Ilustrasi batu bara. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah menyatakan akan terus mengawasi produksi batu bara domestik meski telah menambah kuota produksi tahun ini menjadi maksimal 585 juta ton. Hal itu dilakukan agar penambahan produksi tidak menekan harga batu bara global.

"Kami akan amati semua supaya harga batu bara jangan turun," ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Panjaitan usai menghadiri sebuah acara di Jakarta, Selasa (21/8).

Luhut mengungkapkan meski pemerintah memberikan tambahan kuota produksi untuk ekspor maksimal 100 juta ton, penambahan ekspor batu bara tahun ini kemungkinan hanya 25 juta ton.


Sebagai catatan, di awal tahun pemerintah menetapkan kuota produksi batu bara sebesar 485 juta ton dimana sekitar 100 juta ton di antaranya untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri (domestik market obligation/ dmo).

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengungkapkan kenaikan kuota produksi batu bara berisiko menekan harga batu bara global yang kenaikannya mulai melambat.

Namun, pihaknya belum menghitung seberapa besar pengaruhnya karena juga perlu melihat faktor lain seperti permintaan global. Indonesia sendiri memasok sekitar 16 persen dari kebutuhan global per tahun.

"Kami belum hitung dampak (kenaikan kuota produksi) tetapi prediksi awal, kami ada kekhawatiran akan berpengaruh ke harga (batu bara)," terang Hendra.

Menurut Hendra, perusahaan sulit untuk mengerek produksi lebih tinggi dari yang telah direncanakan di awal tahun.

"Alat berat kan terbatas," katanya.


Kendati demikian, Hendra mengapresiasi kebijakan tersebut karena mencerminkan perhatian pemerintah yang mengganggap industri batu bara sebagai salah satu sektor penting.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, harga batu bara acuan (HBA) Agustus 2018 ditetapkan sebesar US$107,83 per ton atau meningkat US$3,18 dari HBA Juli 2018 sebesar US$104,65 per ton.

Adapun realisasi produksi batu bara per semester I 2018 baru mencapai 174 juta ton. Pemanfaatan batu bara domestik pada periode yang sama mencapai 53 juta ton sementara sisanya diekspor oleh perusahaan.


(agt/bir)