BI: Asumsi Ekonomi 5,3 Persen Sudah Perhitungkan Bunga Mahal

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 21:21 WIB
BI: Asumsi Ekonomi 5,3 Persen Sudah Perhitungkan Bunga Mahal Deputi Gubernur Senior BI Dody Budi Waluyo. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyatakan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada 2019 sudah mempertimbangkan dampak kenaikan tingkat suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rata (7DRRR) yang telah mencapai 125 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen.

Deputi Gubernur Senior BI Dody Budi Waluyo mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan juga sudah menyertai dampak dari tekanan ekonomi global yang diperkirakan akan berlanjut.

Ia bilang, salah satu tekanan eksternal yang paling berat dampaknya dan harus diantisipasi ialah kelanjutan perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China. Sebab, hal itu dikhawatirkan dapat menggerus pertumbuhan ekonomi global.



"Jadi semua risiko sudah kami kalkulasikan. Tapi saya rasa, target ini masih realistis untuk bisa kami capai," ungkap Dody di Kompleks Gedung BI, Kamis (16/8).

Meski begitu, menurutnya, dampak kenaikan tingkat bunga acuan BI yang selanjutnya bisa memicu penyesuaian tingkat bunga kredit bank tidak mengkhawatirkan. Sebab, efeknya tetap tidak 'kilat' karena biasanya tetap memiliki jarak waktu yang cukup lama.

"Kenaikan suku bunga itu punya leg waktu ke sektor riil," tekannya.

Sementara itu, Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana mengakui bahwa dampak kenaikan bunga acuan BI akan lebih terasa di tahun depan.


Hal ini karena kenaikan bunga acuan BI memang memiliki jeda waktu beberapa bulan ke depan untuk benar-benar dilihat dampaknya. Namun, dengan masih adanya jeda waktu itu, sambungnya, justru seharusnya perbankan dan otoritas bisa mengkaji kebijakan yang nantinya bisa meredam dampak kenaikan bunga acuan itu.

"Jadi seharusnya karena masih ada jeda waktu, maka ada waktu pula untuk mengantisipasi agar dampaknya tidak sebesar itu," kata Heru kepada CNNIndonesia.com.

Oleh karena itu, katanya, otoritasnya segera menggodok paket kebijakan kredit untuk memberikan 'bantalan' kepada sektor-sektor tertentu, sehingga dampak kebijakan BI tak terlalu besar.


"Dengan kebijakan BI yang dibarengi dengan relaksasi dari OJK, maka diharapkan ini bisa menyeimbangkan dampaknya untuk bank dan ekonomi Indonesia," pungkasnya. (lav/lav)