Bank Infrastruktur Asia Beri RI Jatah Pinjaman Rp14,6 Triliun

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 30/08/2018 19:13 WIB
Bank Infrastruktur Asia Beri RI Jatah Pinjaman Rp14,6 Triliun Ilustrasi proyek infrastruktur.(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah menyebut Bank Infrastruktur Asia (Asian Infrasructure Investment Bank/AIIB) menyediakan plafon pembiayaan sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp14,6 triliun (asumsi kurs Rp14.600 per dolar AS) untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia. Rencananya, plafon pinjaman ini diberikan kepada Indonesia hingga akhir tahun ini.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa pinjaman ini akan dialokasikan untuk program jangka panjang, seperti pelabuhan, bandara, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan infrastruktur pariwisata.

Ia bilang, Indonesia bisa jadi tidak mengambil semua pinjaman sesuai plafonnya, tetapi pemerintah akan segera menyampaikan daftar proyek yang bisa dibiayai dengan pinjaman AIIB.


"Mereka ada komitmen US$1 miliar sampai akhir tahun. Ini memang komitmen baru dari mereka, tetapi belum semua proposal mengenai proyek-proyek ini disampaikan ke AIIB," ujar Basuki, Kamis (30/8).


Basuki merinci, dari segi pekerjaan umum, pinjaman diharapkan bisa membantu pembangunan jembatan panjang senilai US$355 juta, perbaikan jalan nasional di Kalimantan senilai US$250 juta, perbaikan sistem air Jatigede sebesar US$140,62 juta, dan program demi mengatasi kelangkaan air senilai US$50 juta.

Selain itu, pinjaman juga bakal diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika senilai US$260 juta. Namun, Basuki mengaku belum bisa merinci proyek lainnya yang ditawarkan, lantaran pembangunan pelabuhan dan bandara tak dibawah yang masuk daftar proyek tak berada di bawah wewenangnya.

Basuki juga mengatakan, utang yang dialokasikan untuk kegiatan infrastruktur ini tentu akan masuk ke dalam pos utang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Tapi AIIB bilang, ia tidak hanya menambah utang publik tapi juga promote lending to private sector," jelas Basuki.


Ia menambahkan, pinjaman dari AIIB ini tidak memiliki persyaratan yang mengikat. Namun, ia juga tidak menyebut besaran bunga serta tenor yang pinjaman jika Indonesia menggunakan fasilitas utang AIIB.

"Tapi kita tidak tahu apakah akan ambil semua (jatah pinjamam) atau tidak. Yang pasti jika pembiayaan ini efektif, proyek-proyek ini bisa dimulai tahun depan," pungkas dia.

Pinjaman AIIB saat ini sudah dikucurkan untuk beberapa proyek di Indonesia. Pertama adalah modernisasi irigasi dengan nilai US$250 juta. Selain itu, terdapat pula proyek perbaikan operasional dan keselamatan bendungan fase II dengan besaran sebesar US$125 juta.

Kemudian terdapat juga proyek dana pengembangan infrastruktur regional senilai US$100 juta dan proyek nasional perbaikan wilayah kumuh AIIB demi membantu Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dengan nilai US$216,5 juta. (agi/agi)