China Sebut Dampak Perang Dagang AS Hanya Jangka Pendek

Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 02/09/2018 07:40 WIB
China Sebut Dampak Perang Dagang AS Hanya Jangka Pendek Artikel opini Jurnal Partai Komunis China mengisyaratkan sektor fiskal akan berperan besar dalam mengahadapi perang dagang dengan AS. (Reuters/Kim Kyung-Hoon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jurnal Partai Komunis China mengatakan negara itu kemungkinan mengalami kesulitan jangka pendek seperti dampak negatif terhadap stabilitas finansial akibat perang dagang dengan Amerika Serikat, meski tetap optimis terhadap tren pertumbuhan ekonomi.

Artikel opini jurnal ideologi Partai Komunis Qiushi, atau mencari kebenaran, yang terbit Sabtu (1/9) memperingatkan bahwa perang dagang dan ekonomi antara Washington dan Beijing bisa mengancam " pertumbuhan ekonomi China, stabilitas finansial, perdagangan dan investasi, lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat", terutama di sektor industri yang terkena kebijakan tarif AS.

"Tetapi di saat bersamaan, kita harus melihat bahwa fundamental pertumbuhan ekonomi China tidak berubah. Terutama struktur ekonomi China yang dalam beberapa tahun terakhir membaik dengan pesat yang pada akhirnya telah meningkatkan kemampuan menghadapi kejutan-kejutan eksternal."


Amerika Serikat "memicu" perang dagang ini, tetapi China akan mempercepat riset dan pengembangan teknologi-teknologi inti, mengoptimalkan struktur indusri, mendorong diversifikasi pasar dan memperkuat dukungan dari pasar domestik untuk "mengubah situasi buruk menjadi situasi bagus," tulis opini dalam jurnal itu.
Disebutkan bahwa manajemen makro ekonomi China memiliki "ruang kebijakan yang cukup" untuk melawan dampak negatif dan sisi fiskal berpotensi memainkan peran "lebih besar dalam memperluas permintaan domestik dan restrukturisasi".

"Membuka mekanisme transmisi kebijakan moneter dan mengarahkan dana agar berinvestasi di sektor ekonomi riil, terutama UMKM, bisa menghilangkan kesulitan atau pembiayaan yang malah dan memperkuat kemampuan industri finansial dan ekonomi riil dalam menghadapi risiko."

"Tujuan yang baik akan mendapat dukungan luas, sementara tujuan buruk tidak akan didukung," tulis opini yang mengutip filsuf China Mencius. "Pada akhirnya perselisihan ekonomi dan perdagangan China-AS akan terus berkembang ke arah yang menguntungkan China."
Dalam artikel opini berbeda yang diterbitkan di Quishi edisi Sabtu (1/9) ini, Menteri Perdagangan China Zhong Shan meminta agar ada langkah "proaktif untuk memperluas impor agar tercipta keseimbangan perdagangan."

China harus "memperkuat perlindungan hak properti intelektual, melindungi hak-hak yang legal dan kepentingan investor asing dan menciptakan lingkungan berbisnis yang baik dalam berinvestasi di China," tulis Zhong.

China akan "merelaksasi akses pasar secara besar-besaran" dan "dengan pasti memperluas pembukaan di industri finansial, terus melanjutkan upaya membuka industri jasa dan menambah pembukaan akses di industri pertanian, pertmbangan dan manufaktur," katanya.
Pemerintah China telah memudahkan batasan-batasan investasi asing di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat.

Tetapi seorang pejabat pemerintah China mengatakan awal tahun ini bahwa pembukaan industri finansial bagi bank dan institusi keuangan asing akan dilakukan berdasarkan prinsip timbal balik dan tidak akan menerima langkah proteksionisme negara lain.

China dan Amerika saling mengenakan tarif atas produk kedua negara yang dimpor satu sama lain.

Perang dagang ini dipicu oleh penerapan tarif terhadap produk China seperti alat bajak, bahan semi kondukter dan komponen pesawat bernilai US$34 miliar oleh Presiden Trump pada Juli lalu.
Pemerintah China membalas langkah Amerika Serikat itu dengan mengenakan tarif bea masuk 25 persen atas produk AS senilai US$16 miliar di tahap awal yang berlaku bulan lalu.

Pemerintah Donald Trump telah mengancam akan mensasar pengenaan tarif produk China bernilai total US$500 miliar yang diterapkan secara bertahap. (yns/yns)