JEDA

Tonton Sepak Bola Jadi Obat Stres Iskandar Simorangkir

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Minggu, 07/10/2018 16:16 WIB
Tonton Sepak Bola Jadi Obat Stres Iskandar Simorangkir Bagi Iskandar Simorangkir, mengobati stress karena pekerjaan setumpuk bisa dilakukan dengan menonton pertandingan bola. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi Iskandar Simorangkir, mengobati stress karena pekerjaan setumpuk tak perlu sampai menenggak obat sakit kepala. Menonton pertandingan bola di rumah setiap akhir pekan saja sudah membuat stress nya hilang perlahan.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ini mengaku tak memiliki klub favorit. Namun, ia jarang melewatkan pertandingan berbagai liga pertandingan, seperti Liga Italia dan Jerman.

"Saya tidak fanatik dengan klubnya, yang bagus bermainnya saja selama pelatihnya juga bagus," cerita Iskandar kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/9).


Ia menyontohkan salah satu pelatih yang memantik hatinya adalah Pep Guardiola saat menjadi pelatih klub Barcelona pada musim 2008 sampai 2012.


Sementara, kini Pep melatih Manchester City. Sehingga, ayah dua anak ini mengaku tak jarang melewatkan pertandingan klub asal Inggris tersebut.

"Lalu kalau di Italia, klub Juventus menarik pemainnya," tutur Iskandar.

Biasanya, kata Iskandar, ia lebih memilih nonton pertandingan sepak bola sendiri agar tak mengganggu sang istri. Maklumlah, pria berumur 55 tahun ini tak menampik jika dirinya suka berteriak saat menonton pertandingan.

"Saya nonton di lantai atas, istri di bawah biar tidak ganggu. Kalau saya teriak-teriak di bawah kan ganggu," ujar Iskandar.


Selain menonton pertandingan liga berbagai negara, Iskandar juga punya obat stress lainnya yang cukup ampuh, yakni melihat langsung keberhasilan nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam mengelola bisnisnya.

Seperti diketahui, Iskandar adalah pejabat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang mengurusi KUR bersama Kementerian/Lembaga (K/L) lainnya.

"Saya kan suka memonitor langsung KUR ke wilayah-wilayah, nasabah KUR kan pengusaha kecil dan menengah yang tadinya termasuk rakyat miskin lalu jadi kaya karena berhasil," papar Iskandar.

Meski tak memiliki hubungan saudara, Iskandar mengaku seperti memiliki rasa bahagia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Cerita lainnya, ia menemukan seorang nasabah KUR yang berhasil memiliki rumah beton dari sebelumnya yang hanya rumah gedek.

"Karena tadinya pengusaha kecil dengan modal KUR yang Rp25 juta itu. Saya bahagia, orang yang tadinya kelas usahanya kelas teri sekarang kelas menengah," ungkap Iskandar.

Menurutnya, sebagian besar wilayah sudah pernah ia kunjungi untuk memantau langsung implementasi penyaluran KUR, misalnya Jawa Tengah, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat dan Timur (NTB dan NTB), dan Sumatra.


Terkait jadwal kunjungannya, Iskandar mengaku tak memiliki waktu pasti untuk berkunjung ke daerah, hal itu akan disesuaikan dengan jadwalnya di Jakarta.

"Kalau lagi sibuk bisa tiga bulan sekali baru jalan, kalau waktunya sedang ada satu bulan sekali bisa," pungkas Iskandar. (lav/lav)