Suku Bunga Acuan BI Bertahan di 5,75 Persen

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 23/10/2018 14:28 WIB
Suku Bunga Acuan BI Bertahan di 5,75 Persen Bank Indonesia (BI) kali ini mempertahankan tingkat suku bunga acuannya (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) di level 5,75 persen pada bulan ini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) kali ini mempertahankan tingkat suku bunga acuannya (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) di level 5,75 persen pada bulan ini. Suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing berada di level 5,0 persen dan 6,5 persen.

Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara mengatakan hal ini dilakukan usai mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan domestik dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diadakan pada 22-23 Oktober 2018.

"RDG BI pada 22-23 Oktober 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRRR di 5,75 persen," ujar Mirza di Kompleks Gedung BI, Selasa (23/10).



Mirza menjelaskan dari sisi global, ekonomi dunia diperkirakan mengalami perlambatan, meski harga minyak mentah dunia terus meningkat. Namun, perlambatan harga komoditas mulai terasa.

Sementara ekonomi Amerika Serikat (AS) diproyeksi tetap kuat. Sebab, ada dukungan dari konsumsi rumah tangga dan didukung oleh kebijakan moneter dari bank sentral AS, The Federal Reserve. Sedangkan ekonomi China diperkirakan menurun, sehingga berpotensi berpengaruh ke ekonomi dunia.

Di level domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tidak setinggi yang diharapkan karena ada penurunan ekspor bersih, meski daya beli dan tingkat konsumsi diperkirakan masih baik, dengan dukungan dari pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu).


Namun, kondisi investasi masih tumbuh cukup baik, sedangkan impor tumbuh tinggi seiring dengan meningkatkan konsumsi domestik.

"Ekonomi domestik diperkirakan ada di bagian bawah rentang pertumbuhan sebesar 5,0-5,4 persen," katanya.

Pendukung lain, yaitu karena Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat atau mengalami inflasi, masih berada di rentang target bank sentral nasional sebesar 3,5 persen di akhir tahun ini.

Lebih lanjut, dampak dari kondisi ekonomi global dan domestik memang memberi tekanan kepada nilai tukar rupiah. Namun, Mirza memastikan depresiasi rupiah masih jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara peers Indonesia.


"Secara tahun berjalan, depresiasi rupiah sebesar 10,65 persen atau masih lebih rendah dari Brazil, India, Afrika Selatan, dan Turki," terangnya.

Ke depan, Mirza memastikan BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan stabilitas pertumbuhan ekonomi serta sistem keuangan. (uli/lav)