Setelah Beras, Pemerintah Bakal Benahi Data Produksi Jagung

CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 15:52 WIB
Setelah Beras, Pemerintah Bakal Benahi Data Produksi Jagung Ilustrasi jagung. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah berjanji akan membenahi data produksi komoditas jagung mulai tahun depan. Upaya ini dilakukan untuk mengakhiri karut marut data sektor pangan, seperti beras.

Metode perhitungan yang akan digunakan serupa dengan pendataan beras, yaitu Kerangka Sampel Area (KSA). Menurut Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yudi Anantasena, KSA menjadi salah satu referensi untuk melihat pendekatan metode yang cocok untuk mendapatkan data produksi jagung.

Sembari, BPPT terus mengkaji pendekatan metode lainnya yang cocok. "Untuk jagung, nanti kami cari bagaimana pendalamannya. Ini perlu pendalaman, tapi kami arahnya ke sana. Tahun depan, kami coba mulai kajiannya," ujarnya, Rabu (24/10).


Selain jagung, ia bilang sebetulnya ada beberapa komoditas pangan lain yang juga dirasa perlu untuk dikaji lebih dalam perhitungan produksinya, seperti kakao, kopi, dan lainnya. Namun, ia belum bisa memastikan target pendalaman data produksi untuk komoditas tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto turut mengamini langkah tersebut. Namun, tak dapat dinafikan bahwa perlu kajian mendalam untuk mendapatkan pendekatan metode penghitungan yang tepat bagi masing-masing komoditas.

Pasalnya, masing-masing komoditas sejatinya memiliki karakter masing-masing terkait produksi, misalnya waktu tanam, luas dan kondisi area tanam, pola penanaman, dan lainnya.

"Tentu perlu dilakukan percobaan berulang. Tapi harapannya ke sana, tapi nanti kami lihat lagi ke depannya," tandasnya.


Sebelumnya, pemerintah baru saja membenahi data produksi padi dengan metode KSA yang menggunakan pendekatan luas panen dengan teknologi citra satelit yang berasal dari Badan Informasi Geospasial (BIG) dan peta lahan baku sawah dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR).

Dari metode tersebut, diperkirakan produksi beras Indonesia mencatatkan surplus sebesar 2,85 juta ton pada akhir tahun. Hal ini karena produksi beras sepanjang tahun sebanyak 32,42 juta ton, sedangkan konsumsi masyarakat sekitar 29,57 juta ton.

Lebih lanjut, data produksi beras berasal dari data produksi padi yang diperkirakan mencapai 56,54 juta ton sepanjang tahun ini. Proyeksi ini berasal dari perkiraan luas panen mencapai 10,9 juta ha.


(uli/bir)