Ekonomi AS Kuartal III Tumbuh Melambat Akibat Perang Dagang

CNN Indonesia | Sabtu, 27/10/2018 01:15 WIB
Ekonomi AS Kuartal III Tumbuh Melambat Akibat Perang Dagang Presiden AS Donald Trump.(REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertumbuhan ekonomi AS tumbuh 3,5 persen secara tahunan pada kuartal III 2018, melambat dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,2 persen. Perlambatan antara lain akibat perang dagang AS dan China yang memuncak.

Meski melambat, angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis Departemen Perdagangan AS tepat 11 hari sebelum pemilu paruh waktu di negara tersebut melampaui ekspektasi analis. Angka baru ini juga menunjukkan kepercayaan diri ekonomi terbesar di dunia usai pemangkasan pajak dan sejumlah stimulus fiskal yang diberlakukan setahun terakhir.

Namun, para ekonom menyebut angka-angka yang mendasari pertumbuhan ekonomi AS ini menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump percaya bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat ini dapat membayar kenaikan belanja pemerintah dan pemotongan pajak yang bakal berlaku pada Desember. Kedua kebijakan tersebut diperkirakan mendorong defisit anggaran AS ke posisi tertinggi dalam enam tahun fiskal terakhir.


Menteri Perdagangan Wilbur Ross mengatakan pertumbuhan ekonomi tak bisa diwujudkan dengan kebijakan yang konvensional dan memuji kebijakan Trump.

"Tindakan presiden untuk melakukan deregulasi untuk reformasi pajak telah memberikan dampak pada ekonomi AS," terang dia, dikutip dari AFP, Kamis (26/10).

Namun, para ekonom menyebut pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan melambat pada kuartal-kuartal mendatang karena dampak dari kebijakan pemotongan pajak mulai memudar, sementara inflasi dan suku bunga meningkat.

Perang Dagang

Saat ini, konsumen dan perusahaan masih menikmati dorongan uang dari pemotongan pajak. Pada kuartal III, konsumsi rumah tangga naik empat persen, tercepat sejak akhir 2014.

Namun, angka-angka terbaru juga menunjukkan tanda-tanda distorsi berkelanjutan dari perang dagang Trump dengan China dan lainnya. Para ekonom mengatakan ini menimbulkan risiko pertumbuhan dan menyebabkan Dana Moneter Internasional untuk memangkas proyeksi PDB globalnya menjadi 2019.

"Judulnya mengatakan pertumbuhan yang kuat tetapi ada peringatan dalam rinciannya," kata ekonom Joel Naroff dalam catatan penelitian.


Ekspor Kedelai pada kuartal III tercatat turun tajam, berbalik dari kondisi kuartal II ketika importir Cina berlomba untuk membangun stok menjelang tarif pembalasan Juli oleh Beijing.

Sementara itu, impor Amerika meningkat tajam, sebagian besar didorong oleh pembelian mobil dan barang-barang konsumsi.

Total ekspor turun 3,5 persen terlemah sejak akhir 2016, sementara impor naik 9,1 persen, tercepat sejak akhir tahun lalu.

Di samping itu, porsi investasi langsung juga turun 7,9 persen, penurunan terbesar dalam hampir tiga tahun.

Pasar perumahan yang kesulitan juga menjadi hambatan, turun empat persen dari kuartal sebelumnya, mencatatkan penurunan tertajam dalam setahun terakhir. (AFP/agi)