REKOMENDASI SAHAM

Potensi Rebound Saham Agrikultur, Cermati AALI dan LSIP

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 29/10/2018 09:32 WIB
Potensi Rebound Saham Agrikultur, Cermati AALI dan LSIP Ilustrasi pergerakan saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saham berbasis sektor agrikultur sepanjang pekan lalu rontok hingga 2,58 persen. Dengan koreksi ini, sejumlah harga saham emiten agrikultur kini kian murah sehingga dapat dijadikan pilihan untuk melakukan aksi beli.

Analis Royal Investium Sekuritas Wijen Ponthus mengatakan pelaku pasar bisa melakukan akumulasi beli pada saham agrikultur karena memiliki potensi cukup positif sampai akhir tahun. Akumulasi beli artinya pelaku pasar membeli saham secara bertahap atau dengan cara mencicil.

"Koreksi sektor agrikultur pada pekan kemarin hanya teknikal koreksi saja, arahnya ke depan akan berada dalam tren penguatan," ucap Wijen kepada CNNIndonesia.com, Senin (29/10).


Sejumlah saham agrikultur yang diramalkan memberikan cuan pekan ini, di antaranya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA).

Menariknya, mayoritas saham saham yang direkomendasikan terjaga di teritori positif meski indeks sektor agrikultur menurun cukup terjal sepanjang pekan lalu.


Pada Jumat (26/10), harga saham Tunas Baru Lampung menguat 0,57 persen ke level Rp880 per saham dan PP London Sumatra Indonesia menguat 1,23 persen ke level Rp1.235 per saham. Sementara, saham Astra Agro Lestari terkoreksi 1,26 persen ke level Rp11.750 per saham.

Wijen menerangkan harga minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) berpotensi melaju kencang karena persediaan CPO global cenderung menurun akibat pembatasan ekspor CPO oleh Malaysia. Malaysia merupakan salah satu negara penghasil komoditas CPO terbesar, selain Indonesia.

"Kalau persediaan berkurang maka akan berpengaruh ke harga, hukum ekonomi kan harga itu bergantung pada permintaan dan persediaan," ungkap Wijen.

Dengan kata lain, ketika permintaan melonjak di tengah turunnya persediaan global, maka harga CPO akan semakin melambung. Wijen mengungkapkan harga CPO terakhir berada pada posisi 2.046 ringgit Malaysia per metrik ton.

"Yang mana area 2.000-2.050 ringgit Malaysia per metrik ton ini area support kuat," terang Wijen.


Selain itu, kebijakan pemerintah berupa penerapan pencampuran biodiesel sebesar 20 persen ke dalam Solar (B-20) nonsubsidi juga bakal mengerek kinerja emiten di sektor agrikultur. Hal ini karena kebijakan tersebut akan menaikkan penjualan CPO di dalam negeri.

"Harusnya penjualan pada kuartal IV ini sudah terasa karena kan sudah berlaku," ujar Wijen.

Melalui berbagai prospek tersebut, Wijen meyakini harga saham Astra Agro Lestari pekan ini bisa menyentuh level Rp12.400-Rp13.800 per saham, PP London Sumatra Indoensia mengarah ke level Rp1.390-Rp1.400 per saham, dan Tunas Baru Lampung ke level Rp950-Rp1.030 per saham.

Bargain Hunting Saham Big Cap

Sementara, Analis Anugerah Sekuritas Bertoni Rio berspekulasi pelaku pasar pekan ini akan berburu saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap) di harga rendah (bargain hunting). Hal ini seiring dengan prediksi membaiknya kinerja keuangan emiten big cap kuartal III 2018.

"Spekulasi laporan keuangan emiten kuartal III 2018 ini sesuai harapan di tengah kekhawatiran pasar global," papar Bertoni.

Sejumlah saham big cap yang dimaksud, yakni PT Telekomunikasi Indoensia Tbk (TLKM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Ketiga saham ini bergerak bervariasi pada akhir pekan lalu.


Harga saham Bukit Asam anjlok 5,35 persen ke level Rp4.250 per saham. Namun, beruntung bagi saham United Tractors dan Telekomunikasi Indonesia yang menguat cukup signifikan masing-masing sebesar 4,21 persen ke level Rp33.400 per saham dan 2,25 persen ke level Rp3.630 per saham.

"Namun big cap juga mudah dipengaruhi sentimen negatif dari kejatuhan bursa eksternal dan koreksi harga komoditas," sambung Bertoni.

Hanya saja, kata dia, salah pemicu jatuhnya bursa global atas keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang kekeh menaikkan satu kali lagi suku bunga acuannya ini justru membawa keberuntungan untuk saham big cap.

"Peluang kenaikan suku bunga acuan tidak sejalan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pelaku pasar memburu saham yang sudah murah," jelas Bertoni.

Maka itu, ia memprediksi harga saham big cap bisa meningkat secara bertahap didorong oleh aksi beli sejumlah pelaku pasar. Menurutnya, saham Bukit Asam berpotensi melaju ke arah level Rp5.000 per saham, United Tractors ke level Rp37.000 per saham, dan Telekomunikasi Indonesia ke level Rp4.000 per saham. (agi)