Saham Kota Satu Kena 'Auto Rejection' di Perdagangan Perdana

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 11:04 WIB
Saham Kota Satu Kena 'Auto Rejection' di Perdagangan Perdana CEO PT Kota Satu Properti Tbk Prajitno Kasim saat perdagangan perdana sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (5/11). (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Kota Satu Properti Tbk resmi mencatatkan saham di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, pada perdagangan perdananya hari ini, Senin (5/11), harga saham emiten berkode SATU itu dibuka naik 69,23 persen ke level Rp198 per saham.

Peningkatan yang signifikan tersebut membuat saham perusahaan terkena auto rejection. Dalam Surat Keputusan Direksi BEI nomor Keo-00096/BEI/08-2015 tentang Perubahan Batasan Auto Rejection, untuk saham dalam rentang Rp50 sampai dengan Rp200, maka batas atas yang diterapkan ialah 35 persen dan 10 persen untuk batas bawah.

Namun, khusus pada perdagangan perdana sendiri diberikan kebijakan khusus bisa mencapai dua kali lipat dari maksimal batas atas, yakni mencapai 70 persen.


CEO Kota Satu Properti Prajitno Kasim mengatakan perusahaan melepas 500 juta saham atau setara dengan 40 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Melalui aksi korporasi ini, perusahaan meraup dana segar sebesar Rp58,5 miliar.

"Dalam IPO ini perusahaan mematok harga dalam penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) Rp117 per saham," papar Prajitno, Senin (5/11).

Rencananya, perusahahaan akan menggunakan dana IPO untuk mengembangkan proyek perumahan di kawasan The Amaya tahap satu dan dua yang ada di Ungaran, Semarang. Sejauh ini, Prajitno menyebut bahwa proses pembangunan The Amaya tahap satu sudah mencapai 90 persen.


"Jadi, dananya akan kami gunakan untuk selesaikan The Amaya tahap satu, harga untuk The Amaya ini terjangkau dengan Rp500 juta luas tanah rumah 50 meter persegi," tutur dia.

Manajemen menargetkan dapat menyelesaikan pembangunan The Amaya tahap pertama pada akhir 2019 mendatang. Total lahannya khusus tahap pertama seluas 11 hektare (ha).

Selain untuk membangun The Amaya, lanjut Prajitno, perusahaan akan mengalokasikan raupan dana segar untuk menyuntik anak usahanya yang bergerak dalam bidang perhotelan. Hotel itu salah satunya berada di Semarang.


"Kami ada satu lagi perusahaan di bidang hotel manajemen, kami mengoperasikan hotel dengan lima brand," katanya.

Secara keseluruhan, ia masih cukup optimistis dengan industri properti di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Perusahaan menargetkan pada akhir tahun ini dapat mengantongi keuntungan sebesar Rp4 miliar-Rp5 miliar. Sementara, tahun depan diproyeksi menyentuh angka Rp10 miliar-Rp15 miliar.

"Kami belum agresif karena kami baru memulai bisnis ini tiga tahun terakhir," terang dia.


Terkait pendapatannya sendiri, mayoritas atau sebesar 60 persen masih berasal dari penjualan rumah. Sementara, untuk pendapatan berulang atau recurring income-nya sendiri hanya berkontribusi sebesar 40 persen.

"Kami harapkan tahun depan itu ada kontribusi dari mengoperasikan hotel, target jangka panjang seimbangkan antara recurring income dan non recurring income," pungkasnya.


(aud/bir)