Dampak Ekonomi Lesu China pada Apple Hingga Starbucks

CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 13:13 WIB
Dampak Ekonomi Lesu China pada Apple Hingga Starbucks Ilustrasi. (REUTERS/Jason Lee).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perlambatan ekonomi China mulai berdampak pada sejumlah perusahaan besar dunia. Sepanjang tahun lalu, ekonomi China hanya tumbuh 6,6 persen, terendah dalam 28 tahun terakhir dan berpotensi memburuk di tahun ini. 

Dikutip dari CNN, Dari Sillicon Valley ke Detroit, sejumlah perusahaan besar internasional sudah merasakan efek dari perlambatan negara ekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Pekan ini, perusahaan pembuat mesin asal AS, Caterpillar (CAT) mengaku mengalami penurunan pendapatan yang besar yang sebagian besar disebabkan perlambatan permintaan China. Perusahaan manufaktur perangkat keras, Stanley Black & Decker (SWJ) juga mengalami masalah yang sama.


Sementara perusahaan produsen prosesor grafis asal AS, Nvidia memangkas prospek penjualan untuk kuartal keempat. Pemangkasan prospek penjualan tersebut diklaim akibat memburuknya kondisi ekonomi makro, terutama di China.


Sebelumnya pada Januari, Apple (AAPL) mengguncang pasar global setelah mengatakan pihaknya memperkirakan ekonomi China yang lebih lemah akan menekan angka penjualannya. CEO Tim Cook mengatakan dalam sepucuk surat kepada para investor bahwa perusahaan telah dibabi buta oleh besarnya perlambatan ekonomi di China.

Pasar China sangat penting bagi Apple, berkontribusi sekitar 15 persen dari pendapatan global perusahaan. Samsung, pembuat smartphone lainnya, juga bisa terluka karena perlambatan China.


Siapa yang beresiko?

Para pengamat berpikir kemungkinan ada lebih banyak bisnis internasional yang terdampak perlambatan ekonomi China. Sektor-sektor seperti barang-barang mewah dan mobil, yang menganggap China sebagai salah satu pasar global terbesar mereka juga dapat terpukul.

"Setelah berjalan kuat selama dua hingga tiga tahun terakhir, merek-merek mewah akan berjuang," kata Ben Cavender, seorang analis di perusahaan riset China Market Research.

Investor turut mencermati pada pendapatan dari pemilik Luis Vuitton, LVMH (LVMHF) pada hari Selasa. Namun perusahaan Prancis melaporkan rekor penjualan tahunan untuk 2018 dan menaikkan dividennya.


Industri otomotif terlihat sangat rentan. Untuk sejumlah pembuat mobil internasional terkemuka, Cina mendatangkan lebih banyak pendapatan daripada Amerika Serikat atau Eropa. Tapi tahun lalu pasar mobil Cina menyusut dalam hal penjualan.

Produsen mobil listrik Tesla (TSLA) bisa menjadi yang berikutnya menghadapi tekanan. Tu Le, pendiri perusahaan riset yang berpusat di Beijing, Sino Auto Insights mengatakan fakta bahwa perusahaan yang berbasis di California itu telah memangkas harga di China bukanlah pertanda baik.

"Penjualan Tesla di China dipengaruhi oleh perlambatan di pasar," katanya.


Tesla juga menghadapi peningkatan persaingan di China dari sejumlah rival lokal.

Siapa yang bakal tak terdampak?

Beberapa nama konsumen terbesar di dunia sejauh ini tampaknya tahan terhadap perlambatan China. Penjualan ritel di China sejauh ini bertahan dengan baik karena perekonomian melambat, dengan negara itu diharapkan menjadi pasar konsumen top dunia tahun depan.

Procter & Gamble (PG), yang membuat popok Pampers dan deterjen Tide laundry mengatakan pada awal Januari bahwa mereka tidak melihat tanda pada titik pelambatan konsumen di Tiongkok.


Demikian pula, pembuat pakaian olahraga Adidas (ADDDF) dan Nike (NKE) yang diperkirakan tak bergeming.

CEO Adidas Kasper Rorsted mengatakan pada bulan November bahwa perusahaan Eropa ini masih melihat pertumbuhan yang kuat di pasar ini, tetapi melihat sedikit perlambatan pada kuartal pertama 2019.

CFO Nike Andrew Campion mengatakan pada bulan Desember bahwa perusahaan melihat tanda-tanda momentum yang sangat kuat di China.


PVH (PVH), yang memiliki merek fesyen Calvin Klein dan Tommy Hilfiger mengatakan akhir tahun lalu bahwa pihaknya terus melihat hasil yang kuat dari China, meskipun ekonomi dan perdagangan melambat.

Starbucks (SBUX), rantai kopi terbesar Amerika, menghadapi persaingan yang semakin ketat di Cina, tetapi CEO Kevin Johnson bulan ini mengatakan bahwa para pemimpin perusahaan tetap kuat di pasar. (CNN/agi)