Menko Darmin Yakin RI Tak Terseret Krisis Turki dan Argentina

CNN Indonesia | Sabtu, 30/03/2019 00:48 WIB
Menko Darmin Yakin RI Tak Terseret Krisis Turki dan Argentina Menko Perekonomian Darmin Nasution yakin ekonomi Indonesia tak terseret krisis Turki dan Argentina. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan tidak akan terseret mata uang lira Turki dan peso Argentina yang jatuh dalam beberapa waktu terakhir.

Bahkan, ia yakin tekanan di sektor keuangan yang terjadi di kedua negara berkembang itu tak akan membuat para investor kompak menjauhi negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebab, ada karakteristik permasalahan yang berbeda dari masing-masing negara.

"Ya tidaklah, masa (Indonesia) dianggap sama? Yang dilihat ada lain-lain. Tidak ada spin over, itu kalau you (Anda) ada sakit," ucap Darmin di kantornya, Jumat (29/3).


Di pasar spot, lira Turki masih melemah sekitar 1,61persen dari dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (29/3) siang. Pelemahan lira Turki terjadi karena pengaruh kebijakan internal Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.


Belakangan, Erdogan mengarahkan bank-bank di dalam negeri untuk menahan likuiditas lira di pasar uang asing setidaknya sampai pemilihan lokal berlangsung pada Minggu (31/3) mendatang. Ia juga memaksa para pemberi pinjaman untuk menjaga aliran kredit dan melarang penggunaan dolar AS pada sebagian besar kontrak pembiayaan.

Sementara itu, peso Argentina menguat 1,4 persen pada hari ini. Namun, beberapa hari sebelumnya peso Argentina melemah hingga 2,9 persen dari dolar AS. Pelemahan peso Argentina diduga terjadi karena ada kekhawatiran terhadap tingkat inflasi negara dengan ekonomi ketiga di kawasan Amerika Latin. Selain itu, ada kekhawatiran terhadap resesi dan pemilihan presiden yang akan datang.

Lebih lanjut ia mengatakan Indonesia tak akan terseret jatuhnya mata uang kedua negara karena beberapa indikator ekonomi terpantau masih cukup baik. Misalnya, pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5 persen, inflasi 3,5 persen, tingkat kemiskinan 9,66 persen, gini ratio 0,384, dan tingkat pengangguran 5,34 persen.

"Paling-paling kalau mau dilihat, 'oh neraca perdagangannya agak sedikit membesar', tapi tidak besar-besar amat, kalaupun besar, ada perlunya terhadap pertumbuhan," ujarnya.


Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menilai dampak gejolak ekonomi dari negara-negara itu tak besar kepada Indonesia, khususnya Turki. Sebab, menurut Ani, begitu ia akrab disapa, gejolak di Turki terjadi karena pengaruh kebijakan internal pemerintahan yang dipimpin oleh Erdogan. Namun, tidak terjadi karena pengaruh dari ekonomi dunia secara keseluruhan.

"Ini bukan karena masalah sistemik global, tapi karena decision (keputusan) yang dibuat oleh pemerintah Turki sendiri. Yang terjadi di Turki, terbatas di Turki karena penyebabnya spesifik di Turki," tutur Ani, kemarin.

Kendati begitu, bendahara negara itu memastikan pemerintah Indonesia tetap akan mewaspadai dampak lanjutan dari kedua negara. Caranya, pemerintah juga akan terus memetakan langkah antisipasi dan perkiraan dampak terhadap seluruh indikator ekonomi yang dimiliki. Mulai dari sisi fiskal maupun moneter. Dari sisi nilai tukar, neraca pembayaran, hingga pertumbuhan ekonomi.

"Tapi kami harus tetap waspada karena dalam ekonomi global, sentimen itu selalu mudah menjalar," imbuhnya.


Ia juga mengatakan antisipasi akan dilakukan dengan terus memperkuat koordinasi dengan para anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), seperti Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). (uli/lav)