ANALISIS

Euforia Kemenangan Sementara Jokowi-Ma'ruf Hijaukan IHSG

CNN Indonesia | Kamis, 18/04/2019 17:42 WIB
Euforia Kemenangan Sementara Jokowi-Ma'ruf Hijaukan IHSG Aktivitas beli bersih (net buy) investor asing tercatat mencapai Rp1,16 triliun sampai penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (18/4). (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Puncak pesta demokrasi telah berlangsung, ditandai dengan momentum pemilihan umum presiden, calon presiden, dan anggota legislatif secara langsung oleh rakyat Indonesia pada Rabu (17/4) kemarin.

Hasil perhitungan cepat (quick count) sementara sejumlah lembaga survei menunjukkan pasangan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Prabowo Subianto unggul atas lawannya pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Suara yang diraup Jokowi-Ma'ruf tercatat mencapai lebih dari 50 persen, sementara pesaingnya di bawah 50 persen.

Di lantai bursa, laporan hitung cepat itu memicu pelaku pasar bertindak cepat pula untuk memborong saham emiten nasional sejak perdagangan dibuka pagi tadi. Investor tak mau ketinggalan dengan euforia kemenangan sementara calon pemimpin petahana.


Terbukti, asing yang terlihat menarik dana berturut-turut selama tiga hari perdagangan terakhir selalu menarik dananya hingga menyebabkan beli bersih (net sell) di all market, kini justru mencatatkan aktivitas beli bersih (net buy) hingga Rp1,16 triliun sampai penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (18/4).


Tak ayal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tembus ke level 6.629 atau menguat 0,92 persen dari posisi pembukaan hari ini di level 6.568. Sementara itu, jika dibandingkan dengan penutupan Selasa (16/4) kemarin, penguatannya mencapai lebih dari 2 persen.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengatakan situasi ini memang telah diprediksi sejumlah analis saham. Pelaku pasar sejak awal sangat terlihat mendukung kubu Jokowi-Ma'ruf ketimbang Prabowo-Sandiaga.

Menurut dia, kalau pasangan nomor urut 02 ini menang, pasar khawatir kebijakan yang saat ini sudah berlaku akan diubah 180 derajat. Misalnya, terkait pembangunan infrastruktur yang masih berjalan.

"Jadi pasar melihat ada ketidakpastian dari pasangan 02 daripada 01. Itu alasan logis kenapa hasil quick count jadi katalis positif untuk IHSG," tutur Alfred kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/4).


Menurut dia, mayoritas pelaku pasar khususnya asing lebih banyak menyasar saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap). Pergerakan saham yang lebih stabil dibandingkan saham lapis dua dan tiga menjadi alasan pasar mengoleksi saham big cap.

"Selain itu juga karena dengan hasil quick count kan artinya ekonomi stabil karena kemungkinan besar tidak ada transisi politik," ujar dia.

Sebagai gambaran, beberapa saham big cap terpantau menguat pada pukul 11.09 WIB. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) misalnya, sahamnya melompat 3,37 persen ke level Rp28.400 per saham, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 3 persen ke level Rp4.470 per saham, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 2,95 persen ke level Rp7.850 per saham, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 0,15 persen ke level Rp49.475 per saham.

Setali tiga uang, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan seluruh saham yang berdekatan dengan Jokowi tampak perkasa. Seperti diketahui, Jokowi sudah empat tahun ini terus menggenjot pembangunan infrastruktur di dalam negeri.


Pembangunan itu melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya yang tercatat di BEI. Tak heran sejumlah saham perusahaan di sektor konstruksi naik, antara lain PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) yang sudah naik 4,74 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) 3 persen, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) 5,44 persen, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) 3,11 persen.

"Saham infrastruktur, konstruksi menguat. Saham-saham perbankan juga," terang Hans.

Sebaliknya, saham emiten yang dekat dengan kubu oposisi terjungkal. Sebut saja PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) yang sebagian unitnya dimiliki oleh Sandiaga terpantau melorot sejak pembukaan perdagangan hari ini. Belum sampai penutupan sesi pertama, harga saham perusahaan berbasis investasi itu anjlok 5,47 persen ke level Rp3.630 per saham.

"Jadi ini semakin besar kemungkinan Jokowi-Ma'ruf menang dalam pemilihan presiden," kata Hans.


Ia opimistis hari ini IHSG betah di area 6.500-6.600. Pelaku pasar memang sempat merealisasikan keuntungannya (profit taking) setelah indeks tembus ke level 6.600. Namun, transaksi diprediksi masih tinggi sampai penutupan perdagangan sore ini.

Euforia Sesaat, PR Masih Banyak

Meski hari ini IHSG tampak begitu gagah, Alfred mengingatkan sentimen ini hanya bersifat sementara. Pasalnya, setelah euforia pilpres padam, pasar akan kembali melihat kondisi realita fundamental ekonomi sebagai acuan dalam bertransaksi di pasar saham.

"Kalau Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah sah menetapkan siapa, nanti pasar lihat lagi indikator-indikator ekonomi," papar Alfred.

Persoalan defisit neraca perdagangan, sambungnya, masih jadi pekerjaan rumah terberat bagi Jokowi jika dia benar-benar kembali memimpin Indonesia untuk periode 2019-2024. Kebijakan yang diambil pemerintah untuk memperbaiki indikator ekonomi makro itu akan menentukan sikap pelaku pasar.

Riuh Euforia Kemenangan Sementara Jokowi-Ma'ruf Hijaukan IHSG(CNN Indonesia/Hesti Rika).

"Ini perlu bukti, tapi kan jika Jokowi menang dia tidak perlu adaptasi lagi jadi bisa langsung menjalankan program dan kebijakannya," ucapnya.

Ia menargetkan IHSG tahun ini bisa menyentuh level 7.000. Jika dibandingkan dengan penutupan akhir 2018 lalu, artinya indeks berpeluang naik 13,01 persen.

Secara persentase angkanya melambat dibandingkan pertumbuhan IHSG pada 2014 lalu yang menguat 22,29 persen. Jokowi saat itu memenangkan pilpres bersama pasangannya Jusuf Kalla (JK).

"Karena kenaikan 2014 lalu juga tidak murni karena kemenangan Jokowi saja, tapi gabungan indikator ekonomi lainnya," jelas Alfred.


Tahun ini, beberapa hal yang masih harus diperhatikan selain neraca perdagangan Indonesia, tapi juga rupiah, perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China, dan keputusan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga acuannya.

Diketahui, neraca perdagangan Indonesia pada 2018 defisit US$8,57 miliar. Hal itu disebabkan jumlah ekspor hanya US$180,06 miliar, sedangkan impor mencapai US$188,63 miliar.

Kondisi neraca dagang memang sedikit membaik pada Maret 2019 karena tercatat surplus sebesar US$540 juta. Hanya saja, pemerintah tetap harus memastikan kinerja ekspor dan impor sampai akhir tahun.

Saat ini, rupiah berada di area Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat. Namun, pergerakannya lagi-lagi juga bergantung pada keputusan bank sentral Amerika Serikat dalam menentukan suku bunga acuan.

[Gambas:Video CNN]

Dari sisi aliran dana asing, Hans meramalkan pelaku pasar asing mencatatkan net buy sekitar Rp40 triliun-Rp50 triliun sepanjang 2019. Angka itu sebenarnya tak jauh beda dengan net buy pada 2014 lalu yang tercatat sebesar Rp42,59 triliun.

"Tetap lebih baik dari 2018 yang net sell. Ini karena bukan hanya soal pilpres tapi juga tergantung dengan kondisi global," kata Hans.

Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini memutuskan untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2019 menjadi hanya 3,3 persen. Hal ini lantaran ketegangan yang sedang terjadi antara Amerika Serikat dengan China yang belum mencapai titik temu hingga sekarang.

"Jadi global sebenarnya juga sedang tidak mendukung untuk tahun ini," ujar Hans.


Kendati begitu, ia menambahkan sentimen dari dalam negeri masih terbilang positif. Setelah pilpres, masih ada momen pembagian dividen dan laporan keuangan kuartal I 2019 yang bisa mengerek kinerja IHSG.

"Jadi ada sentimen positif yang beruntun juga sebenarnya," pungkas dia. (aud/lav)