Dompet Digital Tak Jua Rampung, Peluncuran Linkaja Ditunda

CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 12:44 WIB
Dompet Digital Tak Jua Rampung, Peluncuran Linkaja Ditunda Aplikasi TCash yang kini berubah nama menjadi LinkAja pada 22 Februari 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunda peluncuran LinkAja yang seharusnya dilakukan pada Minggu (21/4) kemarin. Fitur dompet elektronik yang belum juga rampung menjadi alasan utama seremoni tersebut batal dilaksanakan.

Deputi Jasa Keuangan, Survei dan Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan peluncuran ditunda karena menunggu migrasi dompet elektronik rampung. Saat ini, dompet digital itu masih dalam proses penyempurnaan oleh PT Fintek Karya Nusantara alias Finarya, perusahaan yang menaungi LinkAja. Pemerintah menunggu sampai perusahaan siap merilis fitur tersebut pada aplikasi.

"Kami mau migrasi dompet segala macam, dompet elektronik belum ada. Jadi nanti dompetnya BNI sama yang lainnya kami migrasikan," ucap Gatot.


Dalam kesempatan berbeda, Direktur Utama Finarya Danu Wicaksana menargetkan dapat merilis dompet elektronik di dalam aplikasi LinkAja pada semester I 2019. Artinya, pengguna bisa menikmati fitur tersebut paling lambat Juni 2019.


Danu mengatakan perusahaan masih melakukan migrasi dompet elektronik yang dimiliki sejumlah bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dompet elektronik ini nantinya bisa menghubungkan dengan kartu kredit/debit pengguna, sehingga tidak perlu isi saldo.

"Dompet sedang proses, semester I selesai. Contoh dompet elektronik seperti Yap milik PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Yap juga nanti akan digabungkan ke LinkAja," ucap Danu kepada CNNIndonesia.com, Selasa (23/4).

Ia melihat pasar untuk fitur dompet elektronik tak akan seluas uang elektronik yang saat ini sudah beroperasi. Sebab, Danu menyadari belum semua orang memiliki kartu kredit/debit.

"Jadi uang elektronik akan lebih digunakan banyak orang. Dompet akan menambah convenience (kenyamanan)," terangnya.


Namun, ia enggan membeberkan lebih rinci target pengguna fitur uang elektronik dan dompet elektronik pada tahun ini. Hal yang pasti, sejauh ini jumlah pengguna aktif uang elektronik LinkAja mencapai jutaan.

Sekadar mengingatkan, uang elektronik LinkAja sudah bisa digunakan sejak Maret 2019 lalu. Fitur ini mirip uang elektronik yang sebelumnya sudah hadir lebih dulu, yakni Gopay milik Gojek dan OVO milik Grup Lippo.

Kedua uang elektronik itu gencar memberikan diskon di berbagai gerai ritel, hingga tempat nongkrong atau tempat makan. Diskonnya beragam mulai dari hanya 20 persen sampai 50 persen.

Melihat kondisi ini, Danu mengaku sudah menyiapkan berbagai strategi agar tak kalah saing dengan Gopay dan OVO. Salah satunya menebar ratusan merchant di berbagai tempat agar pengguna LinkAja bisa bertransaksi dengan uang elektronik.

[Gambas:Video CNN]

"Intinya sih kami memiliki strategi yang berbeda. Walaupun pastinya kami akan juga memiliki ratusan ribu merchant dan ada penawaran menarik," papar Danu.

Sebagai informasi, LinkAja saat ini sahamnya dimiliki oleh delapan BUMN. Rinciannya, PT Telkomsel sebesar 25 persen, lalu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakat Indonesia (Persero) Tbk, dan BNI masing-masing menggenggam 20 persen saham.

Kemudian, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dan PT Pertamina (Persero) masing-masing 7 persen. Sisanya dimiliki PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sebesar 1 persen. (aud/lav)