Bank Dunia Revisi Proyeksi, Sri Mulyani Khawatir Nasib Ekspor

CNN Indonesia | Rabu, 05/06/2019 18:48 WIB
Bank Dunia Revisi Proyeksi, Sri Mulyani Khawatir Nasib Ekspor Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati khawatir kinerja ekspor Indonesia akan kian memburuk seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang dipangkas Bank Dunia. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati khawatir kinerja ekspor Indonesia akan kian memburuk. Kekhawatiran tersebut muncul lantaran Bank Dunia kembali proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akibat memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Berdasarkan laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2019, Bank Dunia memperkirakan perekonomian global pada tahun ini hanya akan tumbuh di kisaran 2,6 persen atau lebih rendah dari sebelumnya 2,9 persen. Namun, ekonomi Indonesia diperkirakan stabil di kisaran 5,2 persen.

Menurut Sri Mulyani, revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dari Bank Dunia sepenuhnya muncul karena memikirkan dampak dari perang dagang antara AS-China. Pasalnya, menurut dia, semula perang dagang diperkirakan tidak akan benar-benar terjadi.



Namun belakangan, eskalasi justru kian meningkat dan memunculkan risiko yang semakin besar bagi perekonomian global. "Ini dampak yang sangat terlihat dari apa yang disebut trade war akan diimplementasikan," ujarnya di rumah dinas di Jalan Widya Chandra, Senayan, Jakarta, Rabu (5/6).

Nahasnya, sambung mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu, dampak perang dagang itu tak hanya akan mempengaruhi angka makro ekonomi global. Namun, implementasinya akan memengaruhi kinerja ekspor Tanah Air secara nyata.

"Ini menimbulkan skenario terburuk dari trade war, sebab kenaikan tarif ini efektif per Juni, jadi ini akan mulai masuk implementasi dari ancaman tersebut," jelasnya.

Sementara kinerja ekspor bisa kian tertekan karena Indonesia selama ini mengandalkan ekspor komoditas mentah. Namun, proyeksi perlambatan ekonomi bisa memicu penurunan harga komoditas di pasar internasional.


Selain itu, ekspor Indonesia juga bisa menurun karena menjadi mitra dagang dari kedua negara yang tengah terlibat perang dagang. "Bahkan, Indonesia sebenarnya sudah terlihat tanda-tanda (penurunan) ekspornya. Misalnya, pada 2017 akhir kami mengalami momentum positif yang sangat tinggi sampai 2018. Kemudian, mulai kuartal IV 2018 hingga kuartal I 2019, mulai menurun lagi," terangnya.

Lebih lanjut, bayang-bayang pelemahan ekspor akibat penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi juga akan menekan perekonomian domestik. "Dengan demikian, kuartal II, III, dan IV (2019) akan terpengaruh dengan adanya tidak lagi ancaman, tapi implementasi dari ancaman itu," jelas dia.

Kendati begitu, ia menekankan pemerintah akan terus berusaha untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, termasuk kinerja ekspor. Hal ini sejalan dengan permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada para menterinya untuk meningkatkan ekspor guna mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada tahun ini. (uli/agi)