Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.270 per dolar AS atau melemah dari posisi kemarin di Rp14.234 per dolar AS.
Di kawasan Asia, sejumlah mata uang melemah dari dolar AS. Rupee India melemah 0,19 persen, ringgit Malaysia minus 0,14 persen, yuan China minus 0,06 persen, dolar Hong Kong minus 0,02 persen, dan won Korea Selatan minus 0,02 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Cadangan Devisa Mei 2019 Turun US$4 Miliar |
Mayoritas mata uang utama negara maju juga turut melemah terhadap dolar AS. Dolar Australia melemah 0,34 persen dan poundsterling Inggris minus 0,14 persen. Namun, euro Eropa menguat 0,05 persen, dolar Kanada 0,14 persen, franc Swiss 0,32 persen, dan rubel Rusia 0,41 persen.
"Probabilitas penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,0-2,25 persen dalam rapat The Fed mencapai 64,2 persen," ungkap Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/6).
Hal ini didukung pula dengan tingkat inflasi AS yang sebesar 0,1 persen pada Mei 2019. Menurutnya, hal ini membuat ekspektasi pasar kembali meningkat.
Lihat juga:IHSG Meradang ke Posisi 6.273 |
Kedua, muncul kekhawatiran pelemahan ekonomi China yang tercermin dari penurunan suku bunga dan cadangan rasio dari bank sentral China di tengah perang dagang. "Kekhawatiran itu muncul setelah data menunjukkan bahwa pasokan uang luas China dan pinjaman baru yuan lebih lambat dari yang diharapkan," katanya.
Ketiga, belum ada sinyal kelanjutan dari Brexit setelah Perdana Menteri Inggris Theresia May meninggalkan jabatannya.
Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) pada hari ini mengumumkan posisi cadangan devisa Mei 2019 turun US$4 miliar menjadi US$124,3 miliar.
Ibrahim memperkirakan rupiah besok akan bergerak di rentang Rp14.245-14.285 per dolar AS dengan kecenderungan melemah. Sebab, berbagai sentimen tersebut diperkirakan masih akan bertahan.
[Gambas:Video CNN] (uli/agi)