Pilpres Bikin Lantai Bursa Sepi Peminat

CNN Indonesia | Senin, 08/07/2019 12:43 WIB
Pilpres Bikin Lantai Bursa Sepi Peminat Ilustrasi bursa efek. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) tampaknya tak terlalu banyak dilirik korporasi untuk mencari pendanaan pada awal tahun ini. Jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sepanjang paruh pertama 2019 tercatat hanya 17 perusahaan.

Realisasi ini lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI pada semester I 2018 lalu sebanyak 21 perusahaan. Menurunnya jumlah emiten baru di bursa ikut mempengaruhi total penggalangan dana (raising fund) perusahaan lewat IPO.

Meski penurunan jumlah perusahaan yang IPO tak signifikan, total dana yang berhasil dihimpun anjlok 70,58 persen. Pada semester I 2018, total dana yang dihimpun lewat IPO mencapai Rp8,17 triliun, sedangkan pada semester I 2019 hanya Rp2,4 triliun.

Pilpres Bikin Lantai Bursa Sepi Peminat Daftar IPO Bursa Efek Indonesia(CNN Indonesia/Timothy Loen)
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan pesta demokrasi berupa pemilihan presiden (Pilpres) yang diselenggarakan pada April 2019 menjadi penyebab utama turunnya minat perusahaan untuk melempar saham ke publik. Pelaku usaha menanti kepastian terkait presiden dan wakil presiden untuk periode selanjutnya.

"Mereka (pelaku usaha) menunggu siapa yang akan memimpin pemerintahan selanjutnya, kebijakannya nanti seperti apa," ungkap Hans kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/7)


Perusahaan, menurut dia, juga menahan ekspansi bisnisnya di tengah ketidakpastian politik kemarin. Maka itu, tak ada alasan yang mendesak bagi manajemen untuk segera melantai di Bursa Efek pada semester I 2019.

"Biasanya dana IPO kan digunakan untuk ekspansi, tapi mereka (pelaku usaha) juga tidak ekspansi kemarin. Menahan diri jadi tidak IPO juga," tutur Hans.


Apalagi, kata dia, ada sentimen eksternal berupa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China sempat memanas pada awal tahun. Hans menilai kondisi itu menambah ketidakpastian bagi pasar, sehingga tak banyak perusahaan yang berani menggelontorkan dana besar untuk ekspansi.

"Masalah perang dagang mempengaruhi orang untuk tidak berekspansi juga, kalau ekonomi sedang tidak pasti lebih baik menunda," jelasnya.

Sementara itu, Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi berspekulasi penurunan suku bunga acuan The Fed yang timbul sejak semester I 2019 ikut mempengaruhi sikap manajemen dalam menentukan pendanaan untuk memenuhi kebutuhan modal perusahaan.

"Karena kalau jadi turun mungkin perusahaan lebih pilih berutang di bank atau (menerbitkan) obligasi," terang dia. 


Namun, hingga saat ini suku bunga acuan AS masih berada di 2,25 persen-2,5 persen. Spekulasi sejumlah pihak terhadap penurunan suku bunga acuan ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang sedang melambat.

Belum lama ini, Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen pada Juni 2019. Selain itu, dua bank sentral seperti di India (Reserve Bank of India/RBI) dan Australia (Reserve Bank of Australia (RBA) sudah menurunkan suku bunga acuannya masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen dan 1,25 persen.

Potensi Semester II 2019

Walaupun jumlah perusahaan yang IPO melandai di semester I ini, Wafi optimistis situasi akan berubah pada semester II. Ia memperkirakan banyak perusahaan akan memilih IPO sebagai opsi pendanaan.

"Karena kebutuhan pendanaan mendesak, rasio utang juga sudah tinggi," kata Wafi.

[Gambas:Video CNN]

Lagipula, menurut dia, kondisi ekonomi dalam negeri juga lebih stabil dibandingkan dengan semester I kemarin karena pemilihan presiden sudah usai. Pasar sudah mendapatkan kepastian terkait presiden dan wakil presiden periode 2019-2024.

"Pemilu selesai artinya ekonomi stabil," imbuh dia.

Senada, Hans berpendapat perusahaan yang menahan untuk mencatatkan sahamnya di BEI pada awal tahun akan melakukannya pada semester II ini. Hanya saja, ia sangsi target BEI mendapatkan 75 emiten baru tahun ini akan terwujud.

"Kalau jumlahnya seperti tahun lalu yang sebanyak 57 emiten mungkin bisa, tapi kalau 75 sepertinya sulit ya," terang Hans.


Namun, pesimisme itu tak sejalan dengan fakta yang terjadi saat ini. Betapa tidak? mengawali semester kedua 2019, sudah ada sebanyak tujuh perusahaan dari berbagai sektor usaha mencatatkan saham di pasar modal.

Secara rinci disebutkan, PT Krida Jaringan Nusantara Tbk resmi menjual sahamnya ke publik tepat pada 1 Juli 2019. Menyusul kemudian PT Indonesian Tobacco Tbk, PT Darmi Bersaudara Tbk, dan PT Bima Sakti Pertiwi Tbk secara beruntun.

Hari ini, tiga emiten tercatat melantai di bursa saham, antara lain, PT MNC Vision Networks Tbk, PT Envy Technologies Indonesia Tbk, dan PT Berkah Prima Perkasa Tbk. (aud/agi)