Bantah Resesi, Trump Ingin Pangkas Pajak Profit Jual Aset

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 12:11 WIB
Bantah Resesi, Trump Ingin Pangkas Pajak Profit Jual Aset Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan untuk memangkas pajak keuntungan penjualan aset. (MANDEL NGAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk memangkas sejumlah pajak, tidak hanya gaji pekerja tetapi juga keuntungan atas penjualan aset (capital gains). Pemangkasan dilakukan untuk meredakan kekhawatiran pasar soal acaman resesi ekonomi yang membayangi perekonomian AS.

"Kami sedang melihat berbagai pengurangan pajak," ujar Trump pada Selasa (20/8), waktu setempat, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (21/8).

Kekhawatiran bahwa ekonomi AS akan terancam resesi menguat pekan lalu setelah investor obligasi AS meminta bunga yang lebih tinggi untuk obligasi pemerintah AS (T-bill) dengan jangka waktu 2 tahun dibandingkan 10 tahun. Permintaan bunga itu menjadi sinyal hilangnya keyakinan pasar terhadap pertumbuhan ekonomi AS dalam jangka pendek.


Namun demikian, Trump mengacuhkan kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi AS tersebut. Malah, ia memamerkan tingkat pengangguran yang rendah dan kenaikan indeks saham selama masa pemerintahannya.

"Saya pikir kata 'resesi' tidak tepat. Kami (AS) sangat jauh dari resesi," ujarnya.

Perlambatan ekonomi akan menjadi berita buruk bagi Trump. Pasalnya, ia tengah bersiap untuk kampanye pemilihan presiden 2020 dengan memamerkan kinerja ekonominya. Sementara itu, perang dagang dengan China selama setahun terakhir telah membebani pertumbuhan ekonomi AS.

Dalam laporan, pemangkasan sementara pajak penghasilan tengah dipertimbangkan untuk mendorong perekonomian. Namun, Trump menyatakan opsi pemangkasan pajak sebenarnya telah dipertimbangkan sejak lama.

Trump juga menyatakan ia tidak perlu persetujuan Kongres AS untuk memangkas pajak atas profit dari penjualan aset dengan inflasi.

Sejumlah analis pajak menilai jika kebijakan tersebut jadi ditempuh, investor akan membayar pajak atas profit penjualan aset yang lebih kecil jika dihubungkan dengan indeks inflasi.

"Saya tidak berbicara tentang melakukan apapun saat ini, tapi memberlakukan indeks merupakan sesuatu yang telah disukai banyak orang sejak lama dan ini merupakan sesuatu yang sangat mudah dilakukan," ucap Trump.

Mantan Wakil Presiden dan calon kandidat presiden Partai Demokrat Joe Biden mengungkapkan pemangkasan pajak atas profit penjualan aset merupakan kesalahan besar. Karena kebijakan tersebut hanya akan menguntungkan orang kaya.

"Kita seharusnya fokus pada upaya pemberdayaan kembali masyarakat kelas menengah. Kita seharusnya menghargai kerja, bukan kekayaan," ujarnya.

Kemudian, pajak penghasilan membiayai program asuransi kesehatan Medicare bagi orang tua dan jaminan pengaman sosial yang memberikan penghasilan bagi pengangguran.

Memangkas pajak penghasilan hanya mendongkrak konsumsi sementara, yang merupakan motor penggerak utama perekonomian AS. Namun, penerimaan pajak pemerintah akan turun, setidaknya untuk jangka pendek.

Pada akhir 2017, Trump menandatangani perombakan kebijakan pajak yang diajukan oleh Kongres AS yang kala itu dipimpin oleh Partai Republik.

Sebelumnya, AFP memberitakan diskusi mengenai rencana pemangkasan pajak masih dalam tahap awal. Bahkan, pejabat Gedung Putih malah membantah laporan atau rencana tersebut dengan menyatakan, "memotong pajak gaji bukan sesuatu yang dipertimbangkan saat ini."

Sebuah survei yang dirilis pekan ini menunjukkan bahwa mayoritas ekonom memperkirakan ekonomi AS akan mengalami resesi. Dari 226 responden yang disurvei, 34 persen di antaranya mengatakan resesi akan terjadi pada 2021.

Sementara itu, 38 persen lainnya memperkirakan resesi akan terjadi pada 2020. Hanya dua persen responden yang mengatakan resesi akan terjadi pada 2019 ini.
[Gambas:Video CNN] (Reuters/sfr)