"Kami sedang melihat berbagai pengurangan pajak," ujar Trump pada Selasa (20/8), waktu setempat, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (21/8).
Kekhawatiran bahwa ekonomi AS akan terancam resesi menguat pekan lalu setelah investor obligasi AS meminta bunga yang lebih tinggi untuk obligasi pemerintah AS (T-bill) dengan jangka waktu 2 tahun dibandingkan 10 tahun. Permintaan bunga itu menjadi sinyal hilangnya keyakinan pasar terhadap pertumbuhan ekonomi AS dalam jangka pendek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan, pemangkasan sementara pajak penghasilan tengah dipertimbangkan untuk mendorong perekonomian. Namun, Trump menyatakan opsi pemangkasan pajak sebenarnya telah dipertimbangkan sejak lama.
Trump juga menyatakan ia tidak perlu persetujuan Kongres AS untuk memangkas pajak atas profit dari penjualan aset dengan inflasi.
"Saya tidak berbicara tentang melakukan apapun saat ini, tapi memberlakukan indeks merupakan sesuatu yang telah disukai banyak orang sejak lama dan ini merupakan sesuatu yang sangat mudah dilakukan," ucap Trump.
Mantan Wakil Presiden dan calon kandidat presiden Partai Demokrat Joe Biden mengungkapkan pemangkasan pajak atas profit penjualan aset merupakan kesalahan besar. Karena kebijakan tersebut hanya akan menguntungkan orang kaya.
"Kita seharusnya fokus pada upaya pemberdayaan kembali masyarakat kelas menengah. Kita seharusnya menghargai kerja, bukan kekayaan," ujarnya.
Memangkas pajak penghasilan hanya mendongkrak konsumsi sementara, yang merupakan motor penggerak utama perekonomian AS. Namun, penerimaan pajak pemerintah akan turun, setidaknya untuk jangka pendek.
Pada akhir 2017, Trump menandatangani perombakan kebijakan pajak yang diajukan oleh Kongres AS yang kala itu dipimpin oleh Partai Republik.
Sebelumnya, AFP memberitakan diskusi mengenai rencana pemangkasan pajak masih dalam tahap awal. Bahkan, pejabat Gedung Putih malah membantah laporan atau rencana tersebut dengan menyatakan, "memotong pajak gaji bukan sesuatu yang dipertimbangkan saat ini."
Sementara itu, 38 persen lainnya memperkirakan resesi akan terjadi pada 2020. Hanya dua persen responden yang mengatakan resesi akan terjadi pada 2019 ini.
[Gambas:Video CNN] (reuters/sfr)