The Fed Tak Ingin Beri Sinyal Penurunan Suku Bunga Berlanjut

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 10:39 WIB
The Fed Tak Ingin Beri Sinyal Penurunan Suku Bunga Berlanjut The Fed tak ingin berikan sinyal penurunan suku bunga akan berlanjut. (Alex Wong/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves (The Fed) tak ingin memberikan sinyal penurunan suku bunga acuan akan berlanjut. Hal itu tercermin dari isi risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang digelar pada 30-31 Juli 2019 lalu.

Dalam rapat sebelumnya, The Fed memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin (bsp) ke kisaran 2 persen hingga 2,25 persen. Pemangkasan itu merupakan yang pertama sejak 2008.

"Secara umum, peserta rapat cenderung menginginkan pendekatan di mana kebijakan diarahkan oleh informasi yang datang  dan itu menghindari untuk kelihatan mengikuti jalur yang telah ditetapkan sebelumnya," tulis risalah rapat yang dilansir dari Reuters, Kamis (22/8).


Sinyal tersebut kemungkinan tidak akan disukai oleh Presiden AS Donald Trump yang menginginkan suku bunga acuan AS ditekan lebih dalam lagi sejak lama.

Awal pekan ini, Trump meminta The Fed memangkas suku bunganya hingga 100 bsp atau 1 persen.

"Suku bunga The Fed, selama jangka waktu yang cukup singkat, harus dikurangi setidaknya 100 basis poin, dengan mungkin beberapa pelonggaran kuantitatif juga," ujar Trump melalui cuitan di akun Twitter resminya @realDonaldTrump.

Jika itu terjadi, Trump meyakini ekonomi AS akan lebih baik lagi dan ekonomi dunia akan lebih cepat memberikan imbas positif pada semua pihak.


Selanjutnya, risalah rapat yang dirilis Rabu (21/8) waktu setempat mengungkapkan suara pejabat pengambil keputusan The Fed terbelah antara menurunkan atau menahan suku bunga acuannya.

Kendati demikian, mereka satu suara dalam hal memberikan sinyal ke pasar bahwa The Fed tidak berada di jalur yang mengarah pada penurunan lebih lanjut.

Sejumlah pejabat menginginkan pemangkasan suku bunga hingga 50 basis poin untuk mengerek inflasi ke level target bank sentral serta menahan tekanan dari perdagangan global. Sementara, beberapa pejabat lainnya dengan jumlah yang lebih besar menginginkan agar The Fed menahan suku bunganya.

Jika seluruh pejabat memiliki hak suara dalam pengambilan keputusan, perbedaan itu akan tampak lebih jelas. Sebagai catatan, Dewan Gubernur The Fed memiliki hak memilih tetap. Sementara, hanya 5 dari 12 pimpinan bank sentral regional yang memiliki hak suara dalam pengambilan keputusan.

"Saya pikir hal yang mengejutkan adalah betapa terbelahnya (pandangan) mereka," ujarnya Analis DA Davidson Mary Ann Hurley.

Menurut Hurley, pejabat The Fed tampak benar-benar khawatir apakah mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang benar.

Di saat yang sama, risalah tersebut juga mengungkap kekhawatiran pejabat The Fed terhadap perlambatan ekonomi, tensi perdagangan, dan inflasi yang rendah.

Analis investasi Baird Willie Delwiche menilai The Fed ingin terlihat fleksibel. "Mereka jelas khawatir terhadap tensi global di luar sana, apakah itu perdagangan atau Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa) atau beberapa perkembangan internasional," ujar Delwiche.

Beberapa menit setelah risalah rapat itu dirilis imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (T-bill) yang jatuh tempo 10 tahun naik 1,58 persen. Berikutnya, yield T-bill 30 tahun naik di atas 2 persen, pada perdagangan terakhir tercatat 2,06 persen.

Pekan lalu, yield T-bill jangka panjang turun ke bawah 2 persen untuk pertama kalinya. Hal itu terjadi menyusul turunnya ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang mendorong permintaan aset yang aman.

[Gambas:Video CNN] (Reuters/sfr)