Pengamat: Banyak PR Kerek Pertumbuhan Ekonomi 2020

CNN Indonesia | Kamis, 28/11/2019 09:31 WIB
Pengamat: Banyak PR Kerek Pertumbuhan Ekonomi 2020 Pengamat menilai pemerintah Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada 2020. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 mendatang hanya mencapai 4,8 persen. Angka ini di bawah dari target pemerintah dalam APBN 2020 sebesar 5,3 persen.

Menurut mereka laju perekonomian Indonesia pada 2020 diperkirakan masih akan mendapat tantangan berat . Tantangan berasal dari sisi perdagangan, investasi dan konsumsi.

Indef memaparkan ada tiga tantangan domestik yang menghalangi laju perekonomian Tanah Air.


Pertama, persoalan defisit neraca transaksi berjalan. Kedua, menurunnya laju ekspor dan investasi yang disertai stagnasi peringkat kemudahan berusaha.

Ketiga, mengalirnya dana jangka pendek atau hot money ke negara berkembang yang membuat perekonomian justru semakin rentan.

"Indonesia belum menghadapi resesi, apalagi depresi. Namun, gejala menuju resesi semakin terlihat jelas," ungkap Indef seperti dikutip dari riset, Selasa (26/11).

Menurut riset tersebut ancaman resesi ekonomi ke dalam negeri mayoritas akan berasal dari efek keberlanjutan dari sektor perdagangan ketimbang sektor finansial yang ditandai dengan semakin banyaknya dampak dari perang dagang AS-China.

"Tidak hanya dua negara yang berseteru, perang dagang AS-China juga mendorong perang dagang di negara-negara lainnya hingga perubahan pola perdagangan menjadi protektif," tulis riset tersebut.

Riset tersebut memaparkan beberapa pekerjaan rumah yang harus dirampungkan agar mampu mendongkrak pertumbuhan perekonomian dan keluar dari lingkaran pertumbuhan 5 persen.

Menurut riset tersebut, ekonomi nasional terus bergantung pada kekuatan sektor konsumsi rumah tangga akibat sektor investasi dan perdagangan internasional belum berperan dominan. Iklim investasi yang belum kondusif menyebabkan peranan investasi langsung terhadap perekonomian Indonesia belum maksimal.

"Indonesia tidak menarik bagi investor asing karena kerumitan regulasi," tulis riset tersebut.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor sangat tinggi khususnya pada bahan baku dan penolong untuk industri. Meski demikian, upaya memupuk peranan perdagangan internasional sulit dilakukan oleh Indonesia karena ekspor yang tidak berdaya saing.

"Laju pertumbuhan beberapa sektor utama seperti industri dan perdagangan belum cukup menggembirakan, sementara realisasi investasi juga semakin kedap penyerapan tenaga kerja," tulis riset tersebut.

Kemudian salah satu sektor unggulan seperti Industri Tekstil dan Produk dari Tekstil (TPT) gagal bersaing akibat ketidakberpihakan kebijakan pemerintah dan adanya tekanan faktor eksternal.

[Gambas:Video CNN] (hns/age)