Saham Garuda Mulai Merangkak Naik Usai Kasus Harley Davidson

CNN Indonesia | Senin, 16/12/2019 09:54 WIB
Saham Garuda Mulai Merangkak Naik Usai Kasus Harley Davidson Saham Garuda Indonesia mulai merangkak naik. Saham Garuda sempat melorot saat diterpa kasus penyelundupan Harley Davidson oleh eks dirut Ari Askhara. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terpantau menguat pada perdagangan Senin (16/12). Saham dengan kode emiten GIAA itu naik 2 poin atau 0,40 persen dari level Rp498 menjadi Rp500 per saham. Posisi ini cenderung membaik dibanding pekan lalu.

Saham Garuda Indonesia sempat terpuruk akibat kasus penyelundupan komponen Harley-Davidson dan sepeda Brompton pada armada baru Airbus A330-900 NEO. Pesawat itu diterbangkan langsung dari Toulouse, Prancis, pada Sabtu (16/11).

Imbasnya, Menteri BUMN Erick Thohir memberhentikan Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara pada Kamis (5/12) karena terbukti sebagai dalang dari aksi penyelundupan itu.

Pada hari yang sama, saham Garuda Indonesia langsung melemah 0,80 persen ke level Rp496. Pelemahan saham maskapai penerbangan pelat merah itu masih berlanjut keesokan harinya, Jumat (6/12) sebesar 2,42 persen ke level Rp484.

Pekan berikutnya, saham Garuda Indonesia masih lesu lantaran turun 0,40 persen dalam seminggu. Saham Garuda Indonesia sempat menguat pada perdagangan Senin (9/12) ke level Rp500 dan Selasa (10/12) menjadi Rp515.

Sayangnya, saham Garuda Indonesia kembali menukik 0,40 persen ke level Rp498 pada perdagangan Jumat (13/12). Namun demikian, saham Garuda Indonesia cenderung membaik dibandingkan posisi saat pengungkapan kasus Harley Davidson, yakni di level Rp496.

Sejak awal tahun, saham Garuda Indonesia terpantau menguat 67,11 persen. Saham Garuda Indonesia berhasil mencapai level tertinggi Rp630 pada Rabu(6/3). Sementara itu, harga terendah saham Garuda Indonesia di posisi Rp296 pada Kamis (17/1).

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengatakan penurunan saham dipicu pelanggaran Good Corporate Governance (GCG) oleh jajaran direksi. Penyelundupan Harley-Davidson bukanlah pelanggaran GCG pertama yang dilakukan oleh manajemen.

Sebelumnya, manajemen Garuda Indonesia terbukti melakukan manipulasi laporan keuangan tahun buku 2018 dari rugi menjadi untung.

Namun demikian, Janson menilai pencopotan empat direksi yang terbukti melanggar GCG diyakini mampu memperbaiki kinerja perusahaan pelat merah itu. Sebagaimana diketahui, tak hanya mengganti dirut, dewan komisaris Garuda Indonesia juga mencopot empat direksi perusahaan yang berkaitan dengan penyelundupan komponen motor Harley-Davidson.

Empat direksi lain yang dicopot, Direktur Operasi Bambang Adisurya Angkasa, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal, Direktur Teknik dan Layanan Iwan Joeniarto, dan Direktur Human Capital Heri Akhyar. Sebagai gantinya, mereka mengangkat Fuad Rizal menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama maskapai penerbangan pelat merah tersebut.

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan salah satu alasan penunjukan Fuad adalah karena yang bersangkutan tak ikut dalam penerbangan dari Prancis ke Indonesia bersama empat direksi lainnya.
[Gambas:Video CNN]
"Setidaknya saham Garuda Indonesia masih bisa bertahan di atas level support Rp480," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Ia menilai kinerja keuangan Garuda Indonesia mulai membaik. Hal tersebut tercermin pada kinerja kuartal III 2019, di mana Garuda Indonesia berhasil mengantongi laba sebesar US$122,42 juta setara Rp1,71 triliun mengacu kurs Rp14 ribu.

Kinerja maskapai BUMN itu membaik dari tahun lalu yang mencatatkan rugi sebesar US$114,08 juta setara Rp1,59 triliun.

Raihan laba perseroan ditopang kenaikan pendapatan sebesar 9,95 persen dari US$3,21 miliar setara Rp44,94 triliun pada September 2018 menjadi US$3,54 miliar atau Rp49,56 triliun. Pertumbuhan pendapatan disumbang oleh kenaikan pendapatan penerbangan berjadwal sebesar 8,89 persen dari US$2,56 miliar menjadi US$2,79 miliar.

"Jadi sepanjang kinerja baik tersebut dapat dipertahankan dan GCG sudah mulai membaik, harusnya bisa balik lagi ke atas Rp500 per saham," imbuh dia.

Meski kasus penyelundupan telah terungkap, Kementerian BUMN masih terus membenahi perusahaan pelat merah itu dengan mengkaji ulang entitas bisnis Garuda yang tidak sesuai dengan bisnis inti perusahaan. Bahkan, Kementerian BUMN membuka opsi menutup anak dan cucu usaha yang dinilai tidak produktif.

Di sisi lain, Garuda Indonesia diterpa isu miring terkait menaikkan harga (mark up) pesawat jenis Airbus. Informasi itu disampaikan oleh akun Twitter anonim @digeeembok yang menyebut Tommy Tampatty, Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda Indonesia atawa Sekarga, mark up harga pemesanan pesawat Airbus A330-300
pada rentang waktu 1988-1992 silam

Menurut akun tersebut, harga pesawat tersebut dibeli Garuda Indonesia US$214 juta per unit. Garuda sendiri memesan enam unit yang berarti perusahaan menggelontorkan dana sebesar US$1,2 miliar.

"Padahal, pada 2003, harga Airbus A330-300 adalah US$140 juta," tulis pemilik akun @digeeembok.

Namun hal tersebut dibantah mentah-mentah oleh Tommy. Ia meminta seluruh pihak yang memiliki bukti atas mark up itu bersama-sama melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


(ulf/bir)