REKOMENDASI SAHAM

Sentimen Kenaikan Cukai Reda, Saham Rokok Mulai Mengepul

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Senin, 06/01/2020 08:11 WIB
Sentimen Kenaikan Cukai Reda, Saham Rokok Mulai Mengepul Ilustrasi cukai rokok. (CNN Indonesia/ Daniela Dinda).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah resmi memberlakukan kenaikan tarif cukai rokok pada Rabu (1/1) lalu. Implementasi tarif cukai baru membuat harga rokok di tingkat konsumen kian mahal.

Kenaikan tarif cukai beragam berdasarkan jenis rokok di rentang 12,84 persen hingga 29,96 persen. Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Kenaikan tarif cukai rokok terbesar terjadi pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) yaitu sebesar 29,96 persen.


Selanjutnya, cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) naik sebesar 25,42 persen, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49 persen, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) 12,84 persen.

Menariknya, saham emiten rokok ikut mengepul bertepatan dengan pemberlakuan tarif cukai baru. Sebut saja saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Pada perdagangan perdana, Kamis (2/1), saham Gudang Garam menguat 0,66 persen ke level Rp53.350. Saham produsen rokok merek Gudang Garam Signature itu kembali menghijau pada Jumat (3/1) dengan naik 1,41 persen ke posisi Rp54.100.

Serupa, saham HM Sampoerna berhasil terbang 2,39 persen ke level Rp2.140 pada penutupan perdagangan pekan lalu. Padahal, saham pemilik merek Dji Sam Soe dan Marlboro ini sempat terkoreksi pada perdagangan awal tahun sebesar 0,48 persen ke posisi Rp2.090.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan lonjakan harga disebabkan valuasi saham emiten rokok sudah cukup terdiskon. Penurunan harga saham rokok tampak sejak Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan kenaikan tarif cukai pada September 2019 lalu.

Sukarno menilai pelaku pasar telah merespons kebijakan itu dengan menjual saham emiten rokok sehingga harga sahamnya melemah.

Kini, lanjut dia, pelaku pasar menilai harga saham Gudang Garam dan HM Sampoerna sudah murah, sehingga mereka ramai-ramai memborong sahamnya kembali. Kondisi itu menyebabkan harga saham keduanya merangkak naik.

"Nah, kenaikan cukai seharusnya menjadi sentimen negatif, tetapi harga saham tetap naik karena secara valuasi sudah murah," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Tengok saja, mengutip RTI Infokom, saham Gudang Garam terpantau merosot 29,63 persen dalam 6 bulan terakhir. Namun, saham dengan kode GGRM ini mulai bangkit dalam satu bulan terakhir sebesar 7,39 persen.

Sementara itu, saham HM Sampoerna tercatat jatuh lebih dalam yakni 31,85 persen dalam 6 bulan terakhir. Akan tetapi, saham dengan kode HMSP ini perlahan naik sebesar 10,59 persen dalam kurun waktu satu bulan.

Meski berangsur membaik, namun saham dua produsen rokok itu masih jauh dari posisi tertinggi tahun lalu. Terpantau saham Gudang Garam bertengger pada posisi puncak di level Rp94 ribu pada 4 Maret 2019. Sedangkan, HM Sampoerna mampu mencapai posisi tertinggi di Rp3.920 pada 1 Maret 2019.

Karenanya, Sukarno memprediksi kedua saham emiten rokok itu berpeluang menguat ke depan. Ia meramal saham Gudang Garam mampu menembus level Rp56.800 sedangkan HM Sampoerna di posisi Rp2.300 dalam jangka pendek.

"Kami merekomendasikan trading buy (beli). Sembari perhatikan pergerakan teknikalnya," ucapnya.

Senada, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengamini bahwa bangkitnya saham emiten rokok ditopang faktor teknikal lantaran sahamnya tergolong murah. Bahkan, ia menilai kenaikan saham dua emiten rokok itu telah berlangsung sejak Desember.

"Kenaikan cukai berdampak negatif, tetapi pasar tetap realistis karena harga sahamnya sudah murah," paparnya.

Ia menjelaskan bertambahnya tarif cukai menjadi sentimen negatif bagi emiten rokok. Pasalnya, kenaikan tarif cukai menambah beban pada Harga Pokok Penjualan (HPP) atau Cost of Goods Sold (COGS). Ini merupakan akumulasi seluruh biaya yang muncul hingga produk tersebut siap dijual.

Namun demikian, Hans menilai perseroan akan menyiasati kenaikan COGS kepada konsumen dengan menaikkan average selling price (ASP) atau harga yang diperoleh konsumen untuk setiap produk.

Beruntungnya, menurut dia, perokok cenderung memiliki sifat loyal sehingga perseroan tak perlu khawatir terhadap pengurangan penjualan secara signifikan.

"Konsumen tetap merokok, paling kalau berganti kepada rokok elektrik. Tetapi konsumen rokok ini loyal, susah berganti rokok," paparnya.

Sebagai gambaran, terakhir kali pemerintah mengerek cukai rokok pada 2018 sebesar 10,04 persen. Meski tarif cukai naik, Gudang Garam masih mencatat kenaikan penjualan sebesar 14,89 persen dari Rp83,31 triliun menjadi Rp95,71 triliun di tahun yang sama.

Dengan kenaikan pendapatan itu, Gudang Garam memperoleh laba sebesar Rp7,79 triliun naik tipis 0,49 persen dari sebelumnya Rp7,75 triliun.

HM Sampoerna juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 7,72 persen dari Rp99,09 triliun menjadi Rp106,74 triliun. Imbasnya, perseroan mengantongi pertumbuhan laba lebih tinggi yakni 6,85 persen dari Rp12,67 triliun menjadi Rp13,54 triliun.

Namun demikian, Hans memprediksi besaran kenaikan tarif cukai rokok yang lebih tinggi tahun ini berpotensi menggerus pendapatan dan laba emiten rokok. Namun, penurunannya tidak signifikan.

"Kami belum menghitung prediksi penurunan penjualannya," imbuhnya.

Selain Gudang Garam dan HM Sampoerna, emiten rokok lain yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA) dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). Berbeda dengan Gudang Garam dan HM Sampoerna, saham dua emiten rokok tersebut sudah bergerak fluktuatif sejak awal 2019.

Saham Bentoel terpantau mencapai harga tertinggi di posisi Rp420 pada 6 Maret 2019 dan 20 Mei 2019. Harga saham Bentoel menyentuh level terendah di Rp310 pada 16 Januari 2019 dan 26 Desember 2019.

Geliat saham Bentoel belum tampak tahun ini. Saham dengan kode RMBA dibuka melemah 4,24 persen ke posisi Rp316 pada perdagangan perdana 2020. Selanjutnya, saham Bentoel terpantau stagnan.

Tak jauh berbeda, saham Wismilak juga cenderung berfluktuasi jauh sebelum pengumuman kenaikan tarif cukai rokok. Saham dengan kode WIIM ini sempat mencapai posisi tertinggi di level Rp384 pada 8 Februari 2019. Saham pemilik merek Wismilak Special ini pernah mendarat di posisi terendah yakni Rp151 pada 7 Januari 2019 lalu.

Senasib dengan Bentoel, saham Wismilak melemah 1,19 persen menjadi Rp166 pada perdagangan perdana 2020. Lebih lanjut, saham Wismilak tak bergerak dari posisinya pada penutupan perdagangan pekan lalu.

[Gambas:Video CNN] (sfr)