Daftar Saham yang Bikin Jiwasraya 'Buntung' Versi BPK

CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 18:27 WIB
Daftar Saham yang Bikin Jiwasraya 'Buntung' Versi BPK BPK mengungkap daftar saham yang membuat Jiwasraya buntung, antara lain BJBR, SMBR, dan PPRO. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkap daftar saham berkinerja buruk yang membuat PT Asuransi Jiwasraya (Persero) rugi.

Yakni, PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), dan PT PP Properti Tbk (PPRO). Ketua BPK Agung Firman Sampurna menghitung indikasi kerugian Jiwasraya dari transaksi saham-saham tersebut ialah sebesar Rp4 triliun.

"Saham-saham yang ditransaksikan adalah saham-saham yang berkualitas rendah dan pada akhirnya mengalami penurunan nilai dan tidak likuid," ujarnya, Rabu (8/1).

Agung juga menyebut pembelian saham dilakukan oleh pihak-pihak yang saling terafiliasi dan menguntungkan satu sama lain. Dengan demikian, harga jual tidak mencerminkan angka yang sebenarnya atau sesuai fundamental.

"Pihak-pihak yang terkait adalah pihak internal Jiwasraya pada tingkat direksi, general manager, dan pihak lain di luar Jiwasraya," jelasnya.

Selain itu, Jiwasraya juga memiliki portofolio reksa dana berbasis saham yang dibeli lewat perusahaan manajer investasi. BPK menyatakan perusahaan asuransi BUMN tersebut juga banyak memilih perusahaan manajer investasi dengan kinerja buruk.

"Pemilihan tidak dilakukan secara memadai, manajer investasi terlihat seolah-olah memiliki kinerja yang baik sehingga dipilih Jiwasraya," kata Agung.

Beberapa portofolio saham yang dimiliki perusahaan lewat reksa dana, yaitu PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT SMR Utama Tbk (SMRU), Semen Baturaja, Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, PP Properti, PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), dan PT Hanson International Tbk (MYRX).
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko menyatakan model pemilihan investasi yang dilakukan oleh manajemen sebelumnya menjadi salah satu pemicu bobroknya kondisi keuangan perusahaan.

Pasalnya, dalam mengejar untung selangit, manajemen lawas banyak menginvestasikan dana di aset berisiko tinggi (high risk). Hal itu bisa dilihat dari total aset yang diinvestasikan oleh manajemen lama.

Hexana mencatat 22,4 persen dari total aset ditempatkan di saham bervaluasi rendah (undervalue) dan hanya 5 persen ada di saham LQ-45.

Kemudian, sebanyak 59,1 persen diinvestasikan di reksa dana saham. Hexana bilang mayoritas reksa dana dikelola perusahaan manajer investasi berkinerja buruk. Hanya 2 persen dana yang diinvestasikan di reksa dana dan saham dikelola perusahaan manajer investasi berkualitas.

Hexana bilang portofolio sahamnya turun dari Rp5,6 triliun menjadi Rp1,5 triliun dan reksa dana berbasis saham turun dari Rp12,7 triliun menjadi tinggal Rp4 triliun.

Tak heran, ekuitas perusahaan negatif pada 2018 sebesar Rp10,24 triliun. Jiwasraya juga mencatatkan defisit sebesar Rp15,83 triliun pada periode tersebut.


(aud/bir)