Yakni, PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), dan PT PP Properti Tbk (PPRO). Ketua BPK Agung Firman Sampurna menghitung indikasi kerugian Jiwasraya dari transaksi saham-saham tersebut ialah sebesar Rp4 triliun.
"Saham-saham yang ditransaksikan adalah saham-saham yang berkualitas rendah dan pada akhirnya mengalami penurunan nilai dan tidak likuid," ujarnya, Rabu (8/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Selain Jiwasraya, BPK Juga Periksa Peran OJK |
"Pemilihan tidak dilakukan secara memadai, manajer investasi terlihat seolah-olah memiliki kinerja yang baik sehingga dipilih Jiwasraya," kata Agung.
Beberapa portofolio saham yang dimiliki perusahaan lewat reksa dana, yaitu PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT SMR Utama Tbk (SMRU), Semen Baturaja, Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, PP Properti, PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), dan PT Hanson International Tbk (MYRX).
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko menyatakan model pemilihan investasi yang dilakukan oleh manajemen sebelumnya menjadi salah satu pemicu bobroknya kondisi keuangan perusahaan.
Pasalnya, dalam mengejar untung selangit, manajemen lawas banyak menginvestasikan dana di aset berisiko tinggi (high risk). Hal itu bisa dilihat dari total aset yang diinvestasikan oleh manajemen lama.
Hexana mencatat 22,4 persen dari total aset ditempatkan di saham bervaluasi rendah (undervalue) dan hanya 5 persen ada di saham LQ-45.
Hexana bilang portofolio sahamnya turun dari Rp5,6 triliun menjadi Rp1,5 triliun dan reksa dana berbasis saham turun dari Rp12,7 triliun menjadi tinggal Rp4 triliun.
Tak heran, ekuitas perusahaan negatif pada 2018 sebesar Rp10,24 triliun. Jiwasraya juga mencatatkan defisit sebesar Rp15,83 triliun pada periode tersebut. (aud/bir)