Sri Mulyani Serahkan Penyelesaian Jiwasraya ke Erick Thohir

CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 20:26 WIB
Sri Mulyani Serahkan Penyelesaian Jiwasraya ke Erick Thohir Menkeu Sri Mulyani menyerahkan penyelesaian masalah keuangan Jiwasraya ke Menteri BUMN Erick Thohir. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyerahkan penyelesaian masalah keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) ke Menteri BUMN Erick Thohir. Jiwasraya tengah didera masalah gagal bayar klaim nasabah hingga salah penempatan investasi.

Bendahara negara mengatakan penyelesaian masalah Jiwasraya diserahkan ke Erick Thohir karena Kementerian BUMN memiliki tanggung jawab pengurusan secara korporasi. Selain itu, Erick, kata Sri Mulyani juga sudah mengantongi sejumlah jurus untuk menyelamatkan Jiwasraya.

"Itu nanti dari Menteri BUMN akan ada penanganan untuk keseluruhan company-nya," ujar Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (15/1).


Sementara Sri Mulyani enggan berkomentar soal masalah yang tengah melanda PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri. Sebelumnya, ia hanya mengatakan bakal ada pembahasan masalah kedua BUMN dengan DPR dalam waktu dekat.

"Nanti kami lihat," katanya singkat.

Masalah keuangan Jiwasraya muncul ketika perusahaan gagal membayar klaim polis nasabah senilai Rp802 miliar pada Oktober 2018. Hal ini disebabkan karena 'seretnya' likuiditas perusahaan.

Penundaan bayar itu kemudian menjadi bumerang. Sebab, perusahaan kini memiliki kewajiban pembayaran klaim dan bunga kepada nasabah mencapai Rp12,4 triliun.

Di sisi lain, masalah juga muncul karena perusahaan asuransi negara itu menempatkan investasi pada saham-saham 'gorengan'. Salah penempatan ini membuat perusahan terindikasi kerugian mencapai Rp10,4 triliun.

Dari masalah ini, Erick kemudian mengantongi beberapa jurus yang siap dilancarkan demi membenahi masalah Jiwasraya. Pertama, membentuk holding perusahaan asuransi dengan target perolehan dana sebesar Rp1,5 triliun sampai Rp2 triliun.

Secara jangka panjang, sambungnya, pembentukan holding akan menghasilkan tambahan likuiditas mencapai Rp8 triliun pada empat tahun ke depan. Tak hanya itu, aset perusahaan tentu juga ikut bertambah sehingga bisa menjadi pemasukan bagi perusahaan.

"Lalu ada aset saham yang hari ini sudah dideteksi, valuasinya sampai Rp2 triliun sampai Rp3 triliun. Dengan konsep saving plan bisa berjalan," katanya.

Kedua, mencari investor untuk bergabung dengan anak usaha perusahaan, PT Jiwasraya Putra. Targetnya, jurus ini bisa menghasilkan tambahan likuiditas bagi perusahaan asuransi negara sekitar Rp1 triliun sampai Rp3 triliun.

Ketiga, restrukturisasi produk polis perusahaan. Produk polis yang berbunga terlalu tinggi akan dirasionalkan, sehingga memberikan bunga yang normal.

"Kalau itu bunga beneran, ya cash flow-nya bisa terjamin. Dengan itu semua, dana terkumpul dan akan dikembalikan (ke nasabah) secara bertahap," imbuhnya.

Erick turut memberi sinyal bila mungkin saja ada opsi penyuntikan dana dari pemerintah melalui Kementerian Keuangan, meski belakangan ia enggan menjelaskannya. Seluruh jurus ini akan dieksekusi mulai Februari 2020.

"Kami harus mengikuti step dari pembentukan holding karena itu salah satu yang kami usulkan bagaimana Menteri BUMN bisa merger atau melikuidasi tupoksi, tapi Sri Mulyani sendiri nanti kan untuk menjual atau penyuntikan itu," jelasnya.

[Gambas:Video CNN] (uli/age)