Walau tidak mencapai target, berdasarkan standar Badan Program Pembangunan United Nations Development Programme (UNDP), indeks tersebut menunjukkan IPM Indonesia berada di level yang tinggi.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan IPM Indonesia meningkat karena empat indikator. Pertama, angka harapan hidup. Saat ini, angka harapan hidup saat lahir yang meningkat dari 71,2 tahun menjadi 71,34 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meningkatnya harapan lama sekolah juga menjadi sinyal positif bahwa semakin banyak penduduk yang bersekolah, sebagai modal penting membangun kualitas SDM," ungkapnya.
Keempat, tingkat standar hidup layak alias pendapatan per kapita yang juga meningkat dari Rp11,05 juta per tahun menjadi Rp11,29 juta per tahun. Ia menyebut tingkat pendapatan tersebut sangat menentukan IPM. Pasalnya, bisa mempengaruhi tingkat daya beli, konsumsi, hingga pemenuhan gizi masyarakat.
Berdasarkan provinsi, IPM Indonesia tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta dengan nilai mencapai 80,76, diikuti Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 79,99, Provinsi Kalimantan Timur 76,61, Provinsi Kepulauan Riau 75,48, dan Provinsi Bali 75,38.
Sementara provinsi dengan IPM terendah, yaitu Papua sebesar 60,84. Diikuti Provinsi Papua Barat 64,70, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 65,23, Provinsi Sulawesi Barat 65,73, dan Provinsi Kalimantan Barat 67,65.
[Gambas:Video CNN]
(ara/age)