TOP TALKS

Bahlil Lahadalia, Anak Ndeso Jadi Pembantu Jokowi

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 04/03/2020 09:22 WIB
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meniti karir mulai dari sopir angkot hingga pengusaha sebelum membantu Presiden Jokowi. Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meniti karir mulai dari sopir angkot hingga pengusaha sebelum membantu Presiden Jokowi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sosok pria berkulit sawo matang tampak tergesa-gesa keluar dari rumahnya di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Hari libur sepertinya tidak menyurutkan semangat pria yang mengenakan pakaian batik itu untuk bekerja.

Ia adalah Bahlil Lahadalia, pengusaha yang kini mengabdi menjadi 'pembantu' Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kabinet Indonesia Maju.

Kalau dulu masih bisa 'nongkrong' di kafe bersama kerabatnya sambil berdiskusi, kini Bahlil harus fokus pada jabatan barunya yang sering menyita waktu setiap hari. Bahlil resmi dilantik menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 23 Oktober 2019 lalu.


Sejak saat itu, kehidupannya boleh dibilang berubah 180 derajat. Belum lagi, ia harus beradaptasi dengan protokol yang selalu berjaga di rumah dan mengikutinya ke mana pun ia pergi. Bukan hanya untuk urusan pekerjaan, tapi juga pribadi.

[Gambas:Video CNN]
"Sangat ribet, mau ke mana-mana 'ditongkrongin' saja (sama protokol). Capek juga. Mereka (protokol) kalau bisa pulang duluan, pulang. Tapi kan tidak bisa," cerita Bahlil kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (29/2).

Ia juga mengaku tak bisa sering-sering pulang kampung untuk menemui sang ibu ke Fakfak, Papua, seperti dulu kala. Beruntung, sang ibu kerap berkunjung ke Jakarta, sehingga rasa rindunya terobati.

"Baru sekali pulang ke Fakfak (setelah menjadi Kepala BKPM). Tapi Ibu saya sering ke Jakarta, karena Ibu saya masih sehat sekali," tutur dia.

Pria berumur 43 tahun ini sebenarnya tak pernah bermimpi duduk sebagai pejabat pemerintahan. Sebagai 'anak ndeso' yang lahir dan besar di Papua, Bahlil mengaku cukup tahu diri.

"Saya dipanggil oleh Pak Jokowi, diajak berdiskusi. Saya bilang pak saya kan orang kampung pak, saya punya banyak kekurangan. Mungkin dengan segala hormat, pasti banyak yang memiliki kemampuan lebih," ungkap Bahlil.

Latar belakang keluarganya pun, tak ada dari kalangan pejabat, apalagi konglomerat. Ia lahir dari keluarga miskin di Papua. Ayahnya seorang buruh bangunan, sedangkan ibunya pembantu rumah tangga. Tak heran, jika Bahlil banyak merasakan asam manis kehidupan sejak kecil.

"Jadi kalau kami itu hidup kalau tidak bekerja ya susah. Makan saja susah. Maka saya sejak kecil sudah bekerja jualan kue yang ibu saya buat. Lalu, ke kebun untuk memetik sayur, singkong. Jadi sudah diajari untuk bekerja," ujar Bahlil sembari mengingat masa kecilnya.

Tak hanya berjualan kue, Bahlil juga bekerja sebagai kondektur angkot sejak masih duduk di sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, dia 'naik pangkat' menjadi supir angkot saat menggunakan seragam putih abu-abu.

Setelah lulus dari sekolah menengah atas (SMA), Bahlil memutuskan pergi ke Jayapura untuk kuliah. Dengan modal nekat, ia berangkat menggunakan kapal perintis yang berisikan ayam, kambing, hingga keledai.

"Naik kapal perintis selama dua minggu. Saya sempat bersahabat dengan kambing, ayam, dan keledai itu dua minggu. Untung saja tidak satu bulan, kalau satu bulan mungkin saya bisa bahasa kambing," ujar Bahllil sambil tertawa.

Sesampainya di Jayapura, Bahlil masih bekerja serabutan mulai dari berjualan koran, mendorong gerobak, dan lagi-lagi supir angkot. Semuanya dilakukan demi mencicipi bangku kuliah.

"Saya waktu tiba di Jayapura itu uang saya Rp600 ribu, sementara daftar kuliah Rp800 ribu. Nah karena uang cuma Rp600ribu jadi saya cicil, bayar Rp500 ribu dulu, Rp100 ribu untuk makan, untuk foto copy persyaratan, sambil saya mencari uang untuk membayar sisanya dan akhirnya bisa kuliah," kata Bahlil.

Ia menghabiskan waktu tujuh tahun untuk lulus menjadi sarjana. Selepas itu, Bahlil bersama teman-temannya membangun perusahaan konsultan keuangan. Usahanya cukup sukses saat itu. Pada tahun pertama berdiri, keuntungan perusahaan sudah mencapai lebih dari Rp100 miliar. Gaji yang ia peroleh sebesar Rp35 juta per bulan.

Tapi, Bahlil yang menyukai tantangan memilih keluar dari perusahaan itu pada tahun kedua. Ia membangun lagi usaha sendiri di sektor perdagangan kayu. Jatuh bangun sempat dirasakan. Perusahaannya pernah bangkrut hingga tak bisa membayar gaji karyawan selama enam bulan.

"Saya kembali pakai motor agar kantor bisa berjalan lagi. Tapi Alhamdulillah bisa bangkit," kenang dia.

Bahlil juga bergabung dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) demi memperluas jaringannya sebagai pengusaha. Kemudian, ia didapuk menjadi Ketua Umum Hipmi untuk periode 2015-2019.

Melalui organisasi itulah, Bahlil mengenal sosok Jokowi. Ayah empat anak ini mengaku hubungannya dengan kepala negara cukup baik hingga Jokowi dianggapnya seperti abang sendiri.

Lantas, bagaimana kisah lengkap Bahlil hingga berada di posisinya seperti sekarang? Berikut hasil wawancara khusus.

Putra Daerah Jadi Kepala BKPM

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2