Menkeu Bocorkan Skema Penggunaan Utang dari 'Pandemic Bond'

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 08:02 WIB
Menkeu Bocorkan Skema Penggunaan Utang dari 'Pandemic Bond' Dana dari penerbitan surat utang global dapat digunakan untuk penyertaan modal negara (PMN). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan bocoran skema penggunaan surat utang pandemi (pandemic bond) yang saat ini masih dimatangkan oleh pemerintah. Ia menjelaskan tujuan penerbitan pandemic bond adalah menanggulangi efek domino virus corona terhadap perekonomian. Ini berbeda dengan penerbitan surat utang negara lainnya yang bertujuan untuk membiayai defisit APBN.

"Pandemic bond dimasukkan salah satu instrumen yang letaknya below the line. Artinya resources (sumber dana) yang dicadangkan untuk negara dalam rangka menjaga kemungkinan domino effect yang bisa mengancam ekonomi dan sistem keuangan," ujarnya dalam video conference, Selasa (7/4).

Ia menyampaikan pemerintah telah mendapatkan beberapa alternatif skema pandemic bond berdasarkan pembahasan dengan perbankan dan lembaga jasa keuangan lainnya. Pertama, dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada perusahaan pelat merah.


"Kami berikan PMN ke bank BUMN atau lembaga keuangan milik pemerintah, atau bentuknya dalam penempatan dana pemerintah atau investasi pemerintah. Ini bentuknya masih belum ditetapkan," paparnya.

Kedua, pandemic bond digunakan sebagai bentuk penjaminan. Melalui skema ini institusi yang melakukan tugas negara dapat mencairkan klaim penjaminan kepada pemerintah.

"Prinsip ini yang sedang dielaborasikan, didetailkan dan didiskusikan dengan OJK dan lembaga keuangan. Prinsipnya, ini dipakai untuk membantu pelaku usaha yang menghadapi dampak negatif dari Covid-19," paparnya.

Meski belum ditetapkan waktunya, Ani memastikan surat utang itu akan meluncur tahun ini. Teknis penerbitannya pun tak harus melalui sistem lelang. Namun demikian, ia memastikan pemerintah bakal mengatur skema penerbitan yang menutup kemungkinan tindakan moral hazard.

Karenanya, pemerintah akan menerapkan prinsip risk sharing atau berbagi risiko. Dengan demikian, institusi pemegang pandemic bond ikut memiliki tanggung jawab atas dana tersebut.

"Lembaga yang ikut, juga ikut memiliki risiko sehingga tidak jadi penumpang saja. Juga tanggung jawab karena aset atau perusahaan mereka juga akan terkena risiko," ucapnya.

Sementara itu, pemerintah baru saja merilis surat utang negara global (global bond) berdenominasi dolar AS sebesar US$4,3 miliar pada Selasa (7/4) pagi. Global bond tersebut terdiri dari tiga seri yakni RI030, RI1050, dan RI0470.

Rinciannya, seri RI030 sebesar US$1,65 miliar dengan tenor 10,5 tahun. Global bond ini akan jatuh tempo pada 15 Oktober 2030 dengan imbal hasil (yield) sebesar 3,9 persen.

Selanjutnya, seri RI1050 sebesar US$1,65 miliar dengan tenor 30,5 tahun. Surat utang ini akan jatuh tempo pada 15 Oktober 2050 dengan yield sebesar 4,25 persen.

Terakhir, seri RI0470 sebesar US$1 miliar dengan tenor 50 tahun. Surat utang jangka panjang ini akan jatuh tempo pada 15 April 2070 dengan yield sebesar 4,5 persen.

[Gambas:Video CNN]


(ulf/sfr)