Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal memperkirakan potensi pendapatan bisnis transportasi angkutan umum, jasa perjalanan, hingga perhotelan akan hilang sekitar Rp9,6 triliun sampai Rp48 triliun. Estimasi ini didapat dari rata-rata pengeluaran 32 juta pemudik di masa pulang kampung.
Perkiraannya, masing-masing pemudik memiliki pengeluaran sekitar Rp1 juta sampai Rp5 juta, di mana 30 persennya dialokasikan untuk biaya transportasi dan akomodasi. "Yang paling pertama terkena dampak tentu sektor-sektor ini, sekitar 30 persen pengeluaran habis di jalan biasanya," kata Fithra kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto memperkirakan pendapatan dari sektor bisnis yang bersinggungan langsung dengan kegiatan mudik akan hilang sekitar 40 persen. Misalnya, transportasi dan agen perjalanan.
Lebih lanjut, bila pendapatan bisnis menurun di kala mudik, maka akan pula berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi. Perhitungannya, larangan mudik bisa membuat pertumbuhan ekonomi nasional berkurang hingga 0,1 persen sampai 0,2 persen.
Estimasi ini merujuk pada historis laju ekonomi Indonesia kuartal I yang bisanya berada di kisaran 4,9 persen dan bisa meningkat menjadi 5,0 persen hampir mendekati 5,1 persen pada kuartal II ketika ada momen mudik dan lebaran.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)