Nasib Bisnis 'Oleh-oleh' Dampak Ekonomi Larangan Mudik

CNN Indonesia | Kamis, 23/04/2020 10:57 WIB
oleh-oleh dari monas Kebijakan larangan mudik tidak hanya menekan bisnis transportasi dan perjalanan, tetapi juga usaha kecil yang menawarkan oleh-oleh dan kerajinan tangan. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebijakan larangan mudik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menekan bisnis berbagai sektor, mulai dari transportasi angkutan umum, perhotelan, restoran, dan pariwisata. Tidak terkecuali, usaha kecil yang menawarkan oleh-oleh dan kerajinan tangan.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal memperkirakan potensi pendapatan bisnis transportasi angkutan umum, jasa perjalanan, hingga perhotelan akan hilang sekitar Rp9,6 triliun sampai Rp48 triliun. Estimasi ini didapat dari rata-rata pengeluaran 32 juta pemudik di masa pulang kampung.

Perkiraannya, masing-masing pemudik memiliki pengeluaran sekitar Rp1 juta sampai Rp5 juta, di mana 30 persennya dialokasikan untuk biaya transportasi dan akomodasi. "Yang paling pertama terkena dampak tentu sektor-sektor ini, sekitar 30 persen pengeluaran habis di jalan biasanya," kata Fithra kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.


Sementara potensi kehilangan pendapatan untuk bisnis wisata, hiburan, restoran, hingga oleh-oleh berkisar Rp22,4 triliun sampai Rp112 triliun atau sekitar 70 persen dari pengeluaran pemudik. Ini merupakan pengeluaran pemudik yang menjadi sumber pemasukan langsung bagi usaha di daerah ketika momen mudik.

Kendati begitu, menurutnya, kebijakan larangan mudik mau tidak mau memang harus dilakukan Jokowi, meski harus mengorbankan ekonomi daerah. Pasalnya, di tengah penyebaran virus corona yang kian meluas, uang bukan lagi masalah terpenting.

"Mau tidak mau, ekonomi pasti jatuh, tapi lebih baik begini secara jangka pendek, namun ada investasi untuk perbaikan ekonomi jangka panjang bila mata rantai penyebaran virus bisa diputus," katanya.

Sementara Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto memperkirakan pendapatan dari sektor bisnis yang bersinggungan langsung dengan kegiatan mudik akan hilang sekitar 40 persen. Misalnya, transportasi dan agen perjalanan.

"Karena mereka biasanya akan mengejar target pendapatan sekitar 40 persennya dari momen mudik," jelas Eko.

Lebih lanjut, bila pendapatan bisnis menurun di kala mudik, maka akan pula berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi. Perhitungannya, larangan mudik bisa membuat pertumbuhan ekonomi nasional berkurang hingga 0,1 persen sampai 0,2 persen.

Estimasi ini merujuk pada historis laju ekonomi Indonesia kuartal I yang bisanya berada di kisaran 4,9 persen dan bisa meningkat menjadi 5,0 persen hampir mendekati 5,1 persen pada kuartal II ketika ada momen mudik dan lebaran.

[Gambas:Video CNN]

(uli/bir)