Direktur Utama PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia Ivan Nikolas Tambunan mengatakan beberapa nasabah telah mengajukan keringanan dalam hal pembayaran kredit. Keringanan itu terutama diajukan oleh nasabah dengan nilai pinjaman berkisar Rp30 juta sampai Rp100 juta.
"Tidak banyak, hanya beberapa (yang mengajukan restrukturisasi). Tidak lebih dari lima (nasabah)," ucap Ivan kepada CNNIndonesia.com, dikutip Rabu (6/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami stabil di angka itu, naik turun 0,5 persen saja. Kadang ke 95,7 persen, kadang ke 96,7 persen," tuturnya.
Sementara, tingkat gagal bayar (non performing loan/NPL) diklaim masih terjaga di bawah 1 persen. Ivan menyatakan NPL perusahaan tak meningkat lantaran pinjaman yang disalurkan merupakan kredit produktif.
Lihat juga:Generasi Milenial Doyan 'Ngutang' di Pinjol |
Senada, Direktur Utama PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) Reynold Wijaya menyatakan ada beberapa nasabah yang mengajukan restrukturisasi pembayaran kredit. Jumlahnya tak lebih dari 1 persen peminjam aktif di Modalku.
"Sampai saat ini kurang dari 1 persen peminjam aktif di Modalku di Indonesia sudah mengajukan restrukturisasi," kata Reynold.
Ia menyatakan perusahaan memang menerapkan dua skema restrukturisasi di tengah pandemi ini. Pertama, Modalku menawarkan skema restrukturisasi kredit sesuai dengan kondisi performa bisnis UMKM secara berkala. Kedua, Modalku mengakomodasi skema pembayaran yang diajukan peminjam.
Dengan demikian, bentuk restrukturisasi yang akan diberikan perusahaan akan berbeda-beda untuk tiap nasabah. Namun, sejauh ini Modalku belum memberikan restrukturisasi kredit kepada nasabah.
"Pengajuan restrukturisasi peminjam sedang dalam proses penilaian," imbuh Reynold.
Sama halnya dengan Akseleran, Reynold mengaku NPL perusahaan masih stabil di bawah 1 persen. Realisasi itu dinilai lebih baik dibandingkan tahun lalu yang mencapai 1,6 persen.
"Pada kondisi ini, Modalku masih menunjukkan portofolio yang cukup baik," pungkas dia.
[Gambas:Video CNN]
(aud/sfr)