Investasi Properti Asia Pasifik Jatuh 26 Persen karena Corona

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2020 22:22 WIB
Suasana pameran properti dalam Indonesia di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Sabtu, 16 November 2019. Pameran menawarkan perumahan tapak dan hunian vertikal di sejumlah daerah, khususnya daerah penyangga Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Pameran yang dibuka untuk umum dan gratis ini berlangsung hingga 24 November 2019. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Investasi properti komersial di Asia Pasifik menurun 26 persen pada kuartal I 2020 karena penyebaran pandemi covid-19. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia -- Investasi properti komersial di Asia Pasifik jatuh 26 persen pada kuartal I 2020 jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal itu dikarenakan pandemi virus corona.

Penurunan investasi ini berdampak pada aliran modal ke berbagai industri dan kelas aset. Laporan terbaru JLL Global Capital Flows menunjukkan volume transaksi real estate Asia Pasifik turun menjadi US$34 miliar pada kuartal I 2020.

Tiga negara di Asia Pasifik yang paling terpengaruh bisnis real estate karena virus corona adalah China, Hong Kong dan Singapura.


Investasi di ketiga negara tersebut anjlok hampir 60 persen jika dibandingkan tahun lalu. Sementara, Korea menjadi negara yang investasinya tidak terganggu bahkan memiliki kecenderungan lebih tinggi dari tahun lalu.

CEO Capital Markets Asia Pasifik JLL Stuart Crow mengungkapkan penurunan volume transaksi di Asia Pasifik memang sudah dapat diperkirakan sejak melihat situasi pandemi covid-19.

"Banyak investor telah menghentikan aktivitas karena kondisi ekonomi yang tidak menentu dan banyak kesepakatan bisnis yang terpengaruh. Kami melihat penurunan aktivitas ini berlanjut ke kuartal II, dengan volume perdagangan yang cenderung bangkit kembali dan menguat di paruh kedua tahun ini," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (12/5).

Crow menjelaskan semua sektor properti komersial Asia Pasifik pada kuartal I 2020 terpengaruh oleh covid-19 dengan tingkat aliran investasi yang bervariasi dibanding tahun lalu.

Berikut beberapa poin utama dari riset JLL di kawasan Asia Pasifik. Pertama, volume investasi ritel mencatat kontraksi paling signifikan, turun 39 persen secara tahunan karena penerapan lockdown dan penjagaan jarak aman di banyak wilayah.

Kedua, kebutuhan untuk aset perkantoran tetap tinggi bagi investor luar negeri dan domestik, namun volume turun 36 persen secara tahunan, sekalipun dengan penjualan aset kantor berskala besar di China, Jepang, dan Korea Selatan.

Ketiga, kegiatan transaksi hotel berkurang sebesar 22 persen, sebagian di antaranya terbantu oleh penawaran tertentu yang diselesaikan pada awal kuartal di Jepang dan Korea Selatan.

Keempat, investasi sektor industri dan logistik adalah kelas aset paling tangguh di Asia Pasifik pada kuartal pertama, dengan pertumbuhan aktivitas mencapai 9 persen.

"Dampak keseluruhan dari wabah covid-19 pada pasar investasi diharapkan akan mulai terlihat lebih jelas pada kuartal kedua saat para investor fokus pada portofolio yang ada dan menggunakan waktu mereka untuk menunggu peluang yang tepat," papar Executive Director Capital Markets Research Asia Pasifik JLL Regina Lim.

Selain itu, riset JLL juga menunjukkan kondisi investasi real estate di enam negara Asia Pasifik. Australia mengalami penurunan volume transaksi 28 persen. Pasar CBD Sydney dan Melbourne bertahan pada kuartal pertama.

Pasar investasi ritel merosot tajam 78 persen per kuartal ketika penjualan properti besar ditunda atau dibatalkan karena kurangnya antusiasme terhadap properti pusat perbelanjaan.

[Gambas:Video CNN]

(age/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK