Ia menyatakan proses penyebaran virus corona yang mulai reda dari sebelumnya bisa kembali masif karena banyak masyarakat yang tak lagi menerapkan bekerja dari rumah (work from home/wfh). Bila penyebaran terus meningkat, maka dampaknya ke ekonomi semakin parah.
"Saya memang belum ada hitungan pasti tapi keputusan ini bukan bantu ekonomi tapi ada konsekuensi lebih parah ke ekonomi," ucap Akhmad kepada CNNIndonesia.com, Selasa (12/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, meski banyak karyawan yang kembali bekerja normal demi meningkatkan produktivitas perusahaan, ujung-ujungnya akan percuma karena jumlah permintaan yang rendah di dalam negeri.
"Misalnya pekerjaan serabutan, siapa yang mau kasih kalau lagi seperti ini, ya tidak ada. Mau buka usaha apa bingung karena tidak ada yang beli. Itu contohnya," terang Akhmad.
"Karena kan memang harus seimbang. Pemerintah harus mengatur agar kasus corona segera selesai tapi di sisi lain ada ekonomi yang harus diselamatkan," tutur David.
Bila sejumlah karyawan kembali bekerja normal, David menyatakan ada harapan agar produktivitas perusahaan meningkat. Dengan demikian, pendapatan perusahaan membaik dan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa diminimalisir.
"Tapi jangan lupa kebijakan ini harus dilakukan hati-hati. Jangan sampai ini menimbulkan gelombang baru dan membuat ekonomi memburuk," ucapnya.
"Intinya harus ada kriteria-kriteria sektor mana saja yang bisa (meminta karyawannya masuk kerja)," jelas David.
Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyatakan bakal memberi kesempatan pada kelompok muda usia di bawah 45 tahun untuk tetap bekerja di tengah pandemi virus corona. Tujuannya agar pemerintah dapat menekan potensi PHK.
"Kelompok ini tentu kita beri ruang untuk bisa aktivitas lebih banyak lagi sehingga potensi terkapar karena PHK bisa kami kurangi," pungkas Doni.
[Gambas:Video CNN]
(aud/age)