"Ini realita covid-19, banyak kinerja BUMN yang tergerus," ungkapnya lewat video conference pada Rabu (20/5).
Sebelum corona mewabah, Erick memperhitungkan laba perusahaan 142 BUMN harus bertambah 10 persen setiap tahunnya. Namun, wabah corona membuat mimpi itu berat terwujud.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya saya tidak malu ketemu DPR, Kementerian Keuangan yang awal kami bilang mau mencapai target, kalau bisa lebih, ternyata tahun depan kalau (dividen) bisa capai 50 persennya saja sudah alhamdullilah," ujarnya.
Ia menyebut berbagai strategi diambil untuk menekan dampak wabah virus corona seperti melakukan restrukturisasi, memangkas belanja modal perseroan (capital expenditure/capex) dan belanja operasional (operational expenditure/opec), serta meninjau ulang dan menunda proyek.
[Gambas:Video CNN]
"Seperti PLN, memangkas (capex dan opex) Rp39 triliun," ujarnya.
Kendati demikian, ia menyebut tak semua sektor mendapat perlakuan sama. Khusus untuk sektor logistik dan pariwisata proyek masih terus jalan meski di tengah pandemi.
"Pembangunan seperti Benoa dengan kondisi saat ini justru momentum, dan beberapa titik seperti di Bali dan Labuan Bajo mumpung sepi," katanya.
Lebih lanjut, ia memastikan bahwa protokol kesehatan terus dilakukan meski proyek pelat merah masih digenjot selama pandemi virus corona.