Pilu Nasabah KSP Indosurya, dari Stres hingga Bunuh Diri

CNN Indonesia | Kamis, 04/06/2020 06:55 WIB
Penukuran uang baru di Bank Indonesia cabang Thamrin, Jakarta, 10 Mei 2019. Bank Indonesia menyiapkan uang baru pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000 dan Rp20.000 untuk menghadapi bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1440 H. CNN Indonesia/Hesti Rika Nasabah KSP Indosurya Cipta mengaku stres terdampak kasus gagal bayar. Bahkan, salah satu nasabah bunuh diri karena tak kuasa kehilangan simpanan Rp7 miliar. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rani, bukan nama sebenarnya, menunjukkan wajah memelas saat bercerita soal dampak kasus gagal bayar Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta terhadap keluarganya. Sebagai mantan marketing koperasi tersebut, kondisi yang dialaminya dua kali lipat lebih buruk dari nasabah lain yang uangnya terancam tak kembali.

"Seperti jatuh, habis itu tertimpa tangga. Pekerjaan hilang, duit juga hilang," ujarnya saat ditemui CNNIndonesia.com di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (3/6).

Rani dipecat tanpa pesangon pada pekan pertama Maret lalu, beberapa bulan setelah gagal bayar bilyet atau bagi hasil kepada nasabah diumumkan KSP Indosurya 10 Februari. Sementara, duit yang telah ia investasikan dan terancam raib di bekas tempat kerjanya itu mencapai Rp6 miliar.


Ia membuka rekening deposito pada pertengahan 2018 dengan ganjaran bunga sebesar 6,5 persen sebagai strategi untuk menggaet nasabah lain agar percaya atas ajakannya berinvestasi.

"Saya sampai sekarang sibuk urus uang yang nyangkut, uang nasabah, enggak bisa cari kerja. Sekarang susah cari kerja lagi covid-19 seperti ini. Uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, untuk sekolah anak, masa tua, hilang. Stress kami," keluhnya.

Koperasi yang berdiri sejak 2012 itu menawarkan imbal hasil 6,5-10 persen per tahun kepada nasabah bergantung nominal simpanan-lebih tinggi dari bunga deposito bank yang di kisaran 4-6 persen.

Diiming-imingi bonus dan tambahan bunga oleh manajemen, ia kian semangat menggaet nasabah, termasuk dari anggota keluarganya. Walhasil, ketika surat pemberitahuan gagal bayar sampai ke para nasabah, Rani dicecar banyak orang.

"Untungnya nasabah saya mengerti kalau saya juga korban. Saya kan dulu di bank, saya bawa database sendiri bawa nasabah sendiri. Marketing lain, ada yang sudah disomasi, dilaporkan ke polisi. Sampai jual-jual mobil buat nalangin," ucapnya.

Nasabah asal Sumatera yang enggan disebutkan identitasnya mengaku geram dengan manajemen KSP Indosurya. Gara-gara kasus gagal bayar ini, orang tuanya meregang nyawa dengan cara bunuh diri.

Ia menuturkan orang tuanya menaruh uang sebesar lebih dari Rp1 miliar di koperasi tersebut karena tak lagi bekerja dan sakit-sakitan. Harapannya, bunga dari simpanan itu bisa menambah biaya pengobatan serta sebagai passive income karena tak bisa lagi bekerja.

"Karena tak mau merepotkan keluarga, dan sakit, papa jadi seperti ini," ceritanya lirih.

Rudi Jamin, Ketua Aliansi Korban Indosurya, mengatakan banyak nasabah sudah kehilangan kepercayaan dengan KSP Indosurya dan meminta polisi menahan 2 orang petinggi Indosurya yang telah ditetapkan sebagai tersangka, yakni HS dan SA ditahan.

Nasabah juga meminta polisi segera melakukan penyitaan terhadap aset-aset para tersangka serta menelusuri aliran dana para nasabah. "Bukti-buktinya sudah cukup kuat dan sudah kami sampaikan ke Bareskrim," jelasnya.

Menurut Rudi, HS sempat menawari para nasabah opsi pembayaran dengan cara dicicil 10 tahun atau diganti dengan aset berupa tanah di kawasan Sentul, Bogor. Namun, setelah dicek, harga tanah yang ditawarkan di-mark up menjadi Rp2,5 juta per meter dari harga asli yang hanya Rp1 juta per meter.

Nasabah lain ditawari aset berupa rumah toko di Kawasan Ciledug, yang nilainya Rp3 miliar-Rp4 miliar. Padahal, simpanan mereka mencapai Rp11 miliar.

Karena itu, kata Rudi, banyak nasabah yang enggan mengambil keputusan atas tawaran tersebut dan akhirnya mengambil langkah hukum pidana, serta menyeret KSP Indosurya Cipta ke PKPU.

[Gambas:Video CNN]

Adapun total seluruh kreditur yg mendaftarkan piutang dalam proses tersebut mencapai Rp14 triliun lebih. "Jika ditambah kreditur yang sudah tandatangan perundingan-perundingan dan ditambah kreditur yang pasrah tidak mendaftarkan piutang, mungkin bisa mencapai 20 triliun," imbuh dia.

Rudi juga berharap Direktorat Jendral Pajak Kementerian Keuangan ikut membantu penyelesaian kasus dengan menelusuri harta para tersangka dengan ketidaksesuaian pembayaran pajak koperasinya atau harta pribadinya.

Sebab jika diasumsikan dana nasabah sebesar Rp15 triliun, Ditjen Pajak patut gerah jika setoran PPh Pasal 4 Ayat (2) Koperasi Indosurya selama ini tidak lebih dari Rp150 miliar.

"Jika total uang yg disimpan adalah Rp15 triliun, maka bunga yang dibayar Indosurya kepada nasabah dengan interest berkisar 9 persen-12 persen bisa mencapai Rp1,5 triliun. Dari total bunga itu, maka pajak yang dipotong, yaitu 10 persen, adalah Rp150 miliar," terang Rudi.

"Di samping itu, Ditjen Pajak adalah salah satu institusi yang mempunyai fasilitas pertukaran informasi termasuk harta atau asset WNI di luar negeri," tutur dia.

Hendra Widjaja, anggota tim kuasa hukum Indosurya, belum menjawab pertanyaan CNNIndonesia.com terkait kasus gagal bayar tersebut. Namun, dalam keterangan resminya, Hendra mengatakan kliennya masih menyusun skema penyelesaian kewajiban PKPU kepada anggota koperasi atau calon anggota dengan angka sekitar Rp10 triliun.

Adapun beberapa skema yang disusun dalam proposal perdamaian PKPU, seperti pengembalian uang dengan cara dicicil, sesuai jumlah simpanan pokok nasabah dengan jangka waktu 36 hingga 120 bulan.

Ia mengakui ada beberapa nasabah yang tidak menyetujui skema pengembalian dana tersebut. Namun, ia berharap agar para anggota atau nasabah dapat memahami dan memaklumi situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.

Ia mengharapkan agar para anggota/calon anggota koperasi dapat memahami dan memaklumi situasi dan kondisi yang terjadi saat ini. Skema pengembalian dana itu hingga saat ini masih disusun, dan akan berikan yang terbaik di tengah kondisi yang ada.

"Kepentingan koperasi dan anggota/calon anggota merupakan prioritas utama kami. Maka dari itu, KSP Indosurya beritikad baik dan tetap berupaya untuk melakukan penyelesaian terbaik atas situasi yang ada," tandas Hendra.

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Into The Light (pendampingan.itl@gmail.com) untuk penduduk Jabodetabek atau Inti Mata Jiwa untuk penduduk Yogyakarta dan sekitarnya (intimatajiwa@gmail.com).

CATATAN REDAKSI: Terdapat perubahan nilai investasi pada nasabah dengan kasus bunuh diri sebagai ralat dari narasumber. (hrf/bir)