Perbaikan Konsumsi Harga Mati Pulihkan Ekonomi dari Corona

CNN Indonesia | Kamis, 04/06/2020 14:18 WIB
Pekerja menata prodak susu bayi bubuk di gerai Carrefour Mall Kota Kasablanka, Jakarta, 1 Maret 2019. Sebelumnya Asosiasi Pengusaha Ritel (Aprindo) menyatakan mulai 1 Maret 2019 menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar di semua gerai anggota mereka guna mengurangi peningkatan jumlah sampah plastik. (CNN Indonesia/ Hesti Rika) CIPS memperkirakan ekonomi akan semakin terpuruk bila konsumsi masyarakat tak mampu meningkat hingga akhir tahun. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai pemerintah perlu memperbaiki konsumsi masyarakat untuk memulihkan ekonomi di tengah pandemi virus corona. Pasalnya, tingkat konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama roda perekonomian domestik.

Peneliti CIPS Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan ekonomi dalam negeri akan semakin terpuruk jika konsumsi masyarakat pada kuartal II hingga IV tahun ini belum juga terangkat. Produksi dan distribusi barang atau jasa juga akan terkena imbasnya.

"Berdasarkan kelompok pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 sebesar 2,97 persen dengan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi 1,56 persen, turun dari kuartal sebelumnya 5,02 persen," papar Pingkan dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (4/6).


Ia bilang penurunan konsumsi dapat dilihat dari tingkat inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2020 hanya 0,07 persen.

Padahal, ada momen ramadan dan lebaran yang biasanya mengerek permintaan masyarakat. Namun, inflasi Mei 2020 justru menjadi yang terendah sejak 1978 silam.

"Dalam kondisi normal inflasi cenderung tinggi setiap kali menjelang Lebaran karena ada peningkatan permintaan dan produksi di hampor semua sektor. Namun yang terjadi tahun ini berbeda," terang Pingkan.

Saat ini, sambung Pingkan, pemerintah tengah memberikan sinyal untuk memberlakukan kebijakan kenormalan baru alias new normal. Kebijakan itu seakan menjadi 'jalan keluar' pemerintah untuk menggerakkan kembali roda perekonomian dalam negeri.

"Dengan adanya pemberlakuan penyesuaian terhadap kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dapat mulai mendorong aktivitas ekonomi dan sosial secara perlahan, diiringi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat," kata Pingkan.

Dia bilang pasar merespons positif rancangan kebijakan new normal pemerintah. Terbukti, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak menguat sejak awal Juni 2020.

"IHSG ditutup menguat 1,98 persen ke level 4.874 pada 2 Juni 2020. Investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih pada 3 Juni 2020 sebesar Rp69 miliar di pasar reguler," jelas Pingkan.

Pergerakan indeks juga sejalan dengan rupiah yang semakin kokoh. Rupiah kini bertengger di area Rp14 ribu hingga Rp14.100 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Sepanjang Maret 2020 lalu rupiah melemah sebesar 14,31 persen terhadap dolar AS. Ini menunjukkan rupiah bangkit," ujar Pingkan.

[Gambas:Video CNN]

Pingkan menyatakan kebijakan new normal membangkitkan kembali semangat investor untuk menempatkan dananya di Indonesia. Dengan aliran modal asing itu, IHSG dan rupiah bergerak di zona hijau.

"Implementasi new normal perlu terus dijaga dan ditingkatkan kesiapannya untuk menjaga sentimen positif dan menjaga kepercayaan investor terhadap pasar," terang dia.

Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tak lupa untuk fokus menangani penyebaran virus corona. Jangan sampai, kurva penularan virus tersebut justru kembali meningkat tajam setelah kebijakan new normal berlangsung.

(aud/sfr)