Sebelumnya, pemerintah akan mengubah proyeksi defisit APBN 2020 menjadi 6,34 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dengan merevisi Peraturan Presiden (Presiden) Tahun 2020 tentang perubahan Postur dan Rincian APBN Tahun 2020. Revisi itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan program penanganan corona dan pemulihan ekonomi.
Kepala BKF Febrio Nathan Kacaribu mengatakan pemerintah akan sangat berhati-hati sebab penurunan defisit yang terlalu tajam bisa berbahaya bagi perekonomian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pun defisit diturunkan, kita bisa secara gradual. Lalu tahun depan itu masih di atas 4 persen, lalu tahun depannya masih di atas 4 persen juga. Lalu kemudian setelah itu bisa di bawah 3 persen," imbuhnya.
Seperti diketahui, pelebaran defisit APBN terjadi karena adanya peningkatan pada pos belanja negara sebesar Rp124,5 triliun yang mencakup berbagai belanja untuk mendukung PEN dan penanganan wabah corona, baik dari sisi sektoral maupun regional.
Februari mengatakan, pelebaran defisit juga merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan pertumbuhan ekonomi agar tidak jatuh di bawah nol persen atau minus.
"Harapannya kita bisa berada di teritori yang positif. Ini yang sedang kita dorong dengan program pertumbuhan ekonomi ini," tuturnya.
Sebagai informasi, pemerintah kembali menambah anggaran program PEN dari Rp641,17 triliun menjadi Rp677,2 triliun. Penambahan tersebut itu dilakukan untuk biaya penanganan covid-19, santunan kematian, hingga BLT Dana Desa.
[Gambas:Video CNN]
(hrf/sfr)