Laba Bank Terbesar AS, JP Morgan Rontok 51 Persen

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 21:34 WIB
A woman leaves JP Morgan Chase & Company headquarters in New York, August 14, 2013. The US August 14, 2013 charged a pair of former JPMorgan Chase traders with fraud in connection with the 2012 $6.2 billion JP Morgan mencatat penurunan laba hingga 51 persen pada kuartal kedua ini. Penurunan laba dikarenakan melonjaknya kerugian kredit di tengah pandemi corona. (AFP PHOTO/Emmanuel Dunand).
Jakarta, CNN Indonesia --

JPMorgan Chase, bank terbesar di Amerika Serikat, melaporkan penurunan laba kuartal II 2020 sebesar 51 persen akibat melonjaknya provisi kerugian kredit dan prospek pemulihan yang makin tak menentu.

Meski bisnis pinjaman Main Street JPMorgan (JPM) telah tersandung selama resesi ini, divisi perdagangan bank tersebut masih berkembang pesat karena pasar telah pulih secara tajam dari krisis.

Secara umum, JPMorgan melaporkan laba kuartal kedua sebesar US$4,7 miliar, atau turun dari US$9,7 miliar dibandingkan tahun lalu. Namun, pendapatan per saham hanya turun menjadi US$1,38, dengan mudah mengalahkan ekspektasi Wall Street. Pendapatan mereka tercatat masih melonjak 15 persen melampaui estimasi.


CEO JPMorgan Jamie Dimon mengaku mewaspadai tantangan bisnis ke depan. "Terlepas dari beberapa data ekonomi makro positif baru-baru ini dan tindakan pemerintah yang signifikan dan menentukan, kami masih menghadapi banyak ketidakpastian mengenai ekonomi masa depan," ujar Dimon, dikutip CNN.com, Selasa (14/7).

JPMorgan mencatat provisi kerugian kredit selama kuartal II 2020 mencapai US$10,5 miliar atau naik dari US$1,2 miliar dari periode sama tahun sebelumnya. Sebagian kerugian disebabkan untuk reserve build US$ 8,9 miliar sebagai bank yang bersiap untuk memberikan pinjaman.

Ini menandai percepatan dari kuartal pertama, ketika JPMorgan melaporkan biaya kredit US$8,3 miliar, termasuk pendanaan sebesar US$6,8 miliar.

JPMorgan menyebut peningkatan cadangan yang melonjak selama kuartal kedua mencerminkan keadaan yang makin memburuk dan meningkatnya ketidakpastian dalam prospek ekonomi makro sebagai akibat dari dampak Covid-19.

Saham JPMorgan hanya menguat 4 persen dan telah kehilangan hampir sepertiga dari nilainya tahun ini. JPMorgan melaporkan pinjaman rata-rata di seluruh perusahaan sebesar US$998 miliar atau naik 4 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara simpanan atau dana pihak ketiga melonjak 25 persen menjadi US$1,9 triliun.

Para analis memperingatkan prospek perbankan akan memburuk karena industri ini dibanting oleh badai masalah dahsyat selama pandemi corona.

Pemberi kredit bergulat dengan pengangguran massal, melonjaknya kebangkrutan dan krisis kesehatan yang tidak menentu. Ditambah lagi, keuntungan bank menyusut karena suku bunga yang sangat rendah. 

Lini konsumer JPMorgan didera kerugian US$176 juta, berbanding terbalik dengan laba jumbo US$ 4,2 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan penyusutan pendapatan dan lonjakan provisi untuk kerugian kredit, sebagian besar di sekitar bisnis kartu kredit.

Namun, kerugian kredit aktual tercatat masih minim. JPMorgan melaporkan US$ 1,3 miliar dalam biaya bersih, flat dari tahun lalu.

[Gambas:Video CNN]

(hrf/bir)