Efek Corona, Pendapatan AP I Anjlok 98 Persen pada Mei

CNN Indonesia | Rabu, 15/07/2020 22:15 WIB
Bandara Juanda, Surabaya dan Ngurah Rai, Denpasar yang dikelola PT Angkasa Pura I (Persero). (Dok. Angkasa Pura I) Pendapatan Angkasa Pura I turun hingga 98 persen pada Mei 2020 di tengah pandemi corona. (Dok. Angkasa Pura I)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendapatan PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I turun hingga 98 persen pada Mei 2020 karena anjloknya jumlah penerbangan.

Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan jumlah penumpang di 15 bandara yang dioperasikan perseroan hanya sekitar 75 ribu orang per bulan. Jumlah ini turun drastis dibandingkan kondisi normal yang bisa mencapai 7,5 juta orang per bulan.

"Dari sisi persentase bisnis, kami sempat kehilangan pendapatan dan traffic sampai 98 persen pada Mei," kata Faik dalam webinar yang digelar Habibie Center,  Rabu (15/7).


Faik menyampaikan menurunnya jumlah traffic sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak 5 Februari 2020 ketika pemerintah melarang penerbangan ke China. Belum lagi, pada akhir Februari pemerintah Arab Saudi juga mengeluarkan larangan ibadah umrah sehingga penerbangan internasional makin menyusut.

Penurunan drastis dimulai sejak 11 Maret 2020 ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global. Sementara pada 31 Maret larangan sementara keluar-masuk orang asing diterbitkan pemerintah.

“Pada Mei hampir tidak ada penerbangan di seluruh bandara kami. Kalau rata-rata kami melayani 7,5 juta per bulan pada masa normal. Pada Mei hanya 75 ribu penumpang," papar Faik.

Berdasarkan data AP I, jumlah penumpang di 15 bandara yang mereka kelola sudah meningkat menjadi sekitar 836 ribu per Juni 2020. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu pertumbuhannya justru negatif hingga 90,68 persen.

"Kami sebagai pengelola bandara memang sangat bergantung pada jumlah traffic di bandara," jelas Faik.

Hingga saat ini, lanjut Faik, pihaknya sudah melakukan berbagai efisiensi agar perusahaan bisa bertahan. Beberapa di antaranya adalah menyesuaikan jam operasional dan luas operasional bandara hingga memangkas pekerja.

"Anda bayangkan dengan kondisi pendapatan menurun signifikan namun tetap mengeluarkan ongkos signifikan," pungkasnya

[Gambas:Video CNN]

(hrf/age)