Isyarat Menko Airlangga RI Alami Resesi pada Kuartal III 2020

CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 19:17 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan resesi terjadi karena ekonomi kuartal II dan kuartal III 2020 akan minus 3,4 persen dan minus 1 persen. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan ekonomi RI akan mengalami resesi pada kuartal III 2020. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengisyaratkan RI bakal mengalami resesi ekonomi pada kuartal III mendatang. Pasalnya, ia memproyeksikan ekonomi kuartal II dan III 2020 akan minus 3,4 persen dan minus 1 persen.

"Di kuartal kedua (diperkirakan) minus 3,4 persen, kuartal ketiga minimal kita bisa naik (dengan proyeksi minus 1 persen)," ujar Airlangga, Senin (27/7).

Sebagai informasi, resesi adalah kondisi saat pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif dalam dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.


Pada kuartal I 2020, Indonesia masih positif 2,97 persen. Namun, ekonomi diramal negatif pada dua kuartal selanjutnya.

Jika kuartal III ekonomi RI tercatat kontraksi, maka dipastikan Indonesia masuk ke dalam jurang resesi.

Meski memberi sinyal resesi, namun Airlangga menyatakan tetap optimis pertumbuhan pada kuartal IV 2020 akan bangkit. Ia meramal pada kuartal terakhir tahun ini.

Ia memperkirakan pertumbuhan pada periode tersebut berada di kisaran 1,4 persen. Bila itu tercapai maka secara rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional masih di angka nol persen.

[Gambas:Video CNN]

"Kami berharap di 2020 kita masih berada dalam jalur positif," imbuhnya.

Sementara pada 2021, ia memperkirakan ekonomi tumbuh di kisaran 5 persen. Rinciannya, sebesar 3,2 persen dicapai pada kuartal I, 6,8 persen pada kuartal II, 5,1 persen pada kuartal III, dan 5,1 persen pada kuartal IV 2021.

Meski mendapatkan ancaman resesi ada di depan mata, namun kondisi Indonesia masih lebih baik dari negara-negara lain. Misalnya, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia setidaknya lebih baik dari Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.

Malaysia, sambung dia, laju perekonomiannya diperkirakan turun ke minus 8,4 persen pada kuartal II 2020 dan minus 4,3 persen pada kuartal III 2020. Sementara, pada kuartal IV 2020, Negeri Jiran diperkirakan minus 1 persen, sehingga resesi masih berlanjut dengan akumulasi pertumbuhan minus 3,3 persen pada keseluruhan 2020.

Begitu pula dengan Thailand, ekonomi Negeri Gajah bahkan sudah minus 1,8 persen sejak kuartal I 2020. Pada kuartal II diperkirakan berada di kisaran minus 11,1 persen, lalu minus 6,3 persen pada kuartal III dan minus 4 persen pada kuartal IV 2020.

Dengan begitu, secara menyeluruh Thailand diperkirakan minus 5,8 persen pada 2020.

Kemudian, Filipina sudah minus 0,2 persen pada kuartal I 2020. Lalu diperkirakan minus 7,6 persen pada kuartal II, minus 3 persen pada kuartal III, dan minus 0,4 persen pada kuartal IV, sehingga total minus 2,8 persen pada 2020.

Sedangkan Singapura yang sudah mengumumkan resesi, tumbuh minus 0,3 persen pada kuartal I dan minus 12,6 persen pada kuartal II 2020.

Airlangga menyebut kemungkinan Singapura tumbuh minus 6 persen pada kuartal III dan minus 3,6 persen pada kuartal IV, sehingga total minus 5,6 persen pada 2020.

(wel/agt)